![]() |
Kyai Ahmad Ishomuddin |
Pasca meninggalnya Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid), ada banyak kekhawatiran terhadap perkembangan Nahdlatul Ulama. Gus Dur adalah tokoh moderat yang dicintai berbagai kalangan. Seorang pelindung yang rela dijadikan tameng hinaan demi menyelamatkan orang lain. Mereka yang datang meminta suaka kepadanya.
Gus Dur tidak membeda-bedakan agama, pilihan politik, kelompok. Siapa yang minta perlindungan akan dirangkul dan diayomi. Di pundak Gus Dur inilah NU semakin banyak mengalami himpitan dan ancaman.
Gus Dur menjadi simbol pluralisme, ikon perlawanan terhadap ajaran kekerasan atas nama agama. Ia melawan arus, menunggang gelombang, menghadapi arah angin. Banyak orang membencinya karena tak memahami jalan pikirannya. Kemudian ketika mereka paham, baru menyesalinya.
Namun pelindung besar dengan segala kontroversinya itu telah pergi. Sementara di belakangnya, peperangan melawan radikalisme terus terjadi.
Kekhawatiran itu mungkin berlebihan, mengingat NU tumbuh dari tradisi. Jamiyah itu lahir untuk mempertahankan, bukan menciptakan kebaruan. Tradisi yang dipertahankan itu termasuk soal kaderisasi. Mungkin tak sebesar Gus Dur, namun selalu muncul generasi yang mewakili perjuangannya untuk berani melawan arus.
Perbedaan pendapat adalah sesuatu yang niscaya. Sejak pertama kali berdirinya NU juga sudah ada. Soal kentongan misalnya, KH Hasyim Asy’ari Tebuireng (Rais Akbar NU pertama) melarangnya, namun karena ada pandangan berbeda dari Kiai Faqih Maskumambang (Wakil Rais Aam NU), akhirnya dibolehkan di luar Tebuireng. Semua itu dilakukan demi menghargai perbedaan pendapat tadi. Bukan untuk mencari siapa paling benar.
Kiai Ahmad Ishomuddin adalah salah satu sosok yang, barangkali bisa mewakili gambaran itu. Meski tak seliberal Ulil Abshar Abdallah atau Mun’im Sirry, tapi keberanian untuk berbeda muncul juga dari dirinya. Kiai Ishomuddin memahami risiko, mengetahui batas tawadhu, tetapi kebenaran memang mesti disuarakan.
Dan untuk hal satu ini, wajar saja untuk berbeda pendapat. Ini bukan soal tendensi politik, apalagi tuduhan hina yang dilontarkan para pembully kepadanya. Ahok sama sekali tidak penting, tapi substansi persoalan inilah yang paling utama.
Kasus Ahok jelas politis karena MUI tanpa melewati proses tabayun (klarifikasi). Bagaimana mungkin memperoleh kebenaran jika melompati proses ini? Kebenaran seperti apa yang hendak dihasilkan jika menghilangkan asas praduga tak bersalah?
Atau jangan-jangan MUI telah mengambil-alih wewenang Tuhan? Yang bahkan ketika hendak menurunkan azab sekalipun masih memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri bagi umat lebih dulu. MUI bisa menyimpulkan persoalan tanpa perlu tabayyun? Luar biasa!
Bahkan Kiai Ishomuddin sendiri menyatakan tidak dilibatkan dalam persoalan itu. Padahal ia ada di komisi fatwa, komisi yang tepat untuk menjembatani kasus penistaan agama tersebut.
Namun MUI tak butuh fatwa, mereka membuat produk baru, yaitu sikap keagamaan. Yang katanya konon lebih tinggi dari fatwa. Apakah ini masuk akal?
Kasus penistaan agama itu jelas sengaja diplot demikian. Ahok harus dimasukkan bui tanpa proses tabayun. Dengan mengabaikan haknya untuk memberikan keterangan. MUI dan pemandu soraknya sengaja melewati tahapan fatwa yang di dalamnya ada orang yang berbeda pandangan seperti Kiai Ishomuddin. Agar jalan mereka mulus.
Untuk menghindari friksi, Kiai muda itu memberikan kesaksian secara personal. Sebagai seorang yang memahami agama dari tradisi pesantren. Bukan sebagai dosen UIN Raden Inten Lampung, Rais Syuriah PBNU, atau komisi fatwa MUI. Dan ini tetap dipersoalkan. Haknya sebagai warga negara untuk memberikan kesaksian dipermasalahkan.
Orang-orang telah mabuk kebenaran versi mereka sehingga kehilangan kewarasan. Selain menggunakan tameng agama, tak mau menyolatkan mayat, mereka juga melarang hak asasi warga negara yang dilindungi hukum. Pemaksaan kehendak itu ditunggangi kepentingan politik. Ingin hidup sendiri di Negara ini?
Dan cara berpikir paling nista itu adalah mempertanyakan kedalaman ilmu agama Kiai Ishomuddin karena belum berhaji. Mereka mungkin menganggap haji adalah simbol pencapaian ilmu. Haji itu ritual keagamaan. Syaratnya mampu. Haji berulang kali yang berpotensi riya justru dilarang. Ad hominem semacam itu hanya cara untuk merendahkan kiai muda itu. Dengan cara berpikir konyol.
Mereka tidak melihat kehidupan sederhananya. Sebagai seorang Rais Syuriah PBNU, ormas keagamaan terbesar, Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI, dan dosen UIN, ia dikabarkan masih ngontrak rumah. Bandingkan dengan ustadz kagetan di televisi itu. Kehidupan mereka begitu glamour, serba lebih, bahkan ada yang punya istri simpanan.
Ada banyak kiai muda dengan keteladanan Gus Dur, selain Ishomuddin, ada Gus Yahya Staquf, Gus Ghafur Maimoen, Gus Yaqut, Gus Syafiq Hasyim, Gus Akhmad Sahal, Gus Nadirsyah Hosen, Gus Sumanto Al-Qurthuby, Gus Sa’dullah, dan banyak lagi. Mereka tumbuh dalam dialektika pemikiran NU, tradisi NU, humor NU.
Mereka orang-orang yang siap berbeda pendapat dengan tetap menjunjung hormat. Di pundak kiai-kiai muda yang menyenangkan itulah kelak NU diletakkan.
Orang-orang ini jelas akan dihambat dan difitnah oleh para pendengki. Bagi yang mencintai NKRI, keragaman, keadilan, sudah semestinya mendukung dan menguatkan mereka. Jangan biarkan mereka berjuang sendiri.
Jika senior mereka, seperti KH Said Aqil Siraj (ketua umum PBNU) saja dimaki syiah, sesat, liberal, apalagi mereka ini yang memang terbuka pada dialektika ilmu pengetahuan dan memang besar di luaran. Akan ada banyak tantangan, jalan ke depan semakin terjal dan rawan gesekan.
Namun setidaknya mereka membuktikan, pengganti Gus Dur terus bermunculan di tubuh NU. Kyai-kyai muda NU yang menyenangkan dan mencerahkan. (suaraislam)
Sumber : SantriNews