All Menu

Selamat Datang di Blog Gerakan Pemuda Ansor Anak Cabang Watulimo Kabupaten Trenggalek, Semoga bermanfaat dan membawa Berkah. Aamiin

Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Februari 2018

Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas meminta semua kader Ansor dan Banser menunjukkan perilaku positif.

Menurut pria yang karib disapa Gus Yaqut itu, Ansor dan Banser tidak hanya menjadi etalase Nahdlatul Ulama (NU).

Gus Yaqut mengatakan, Ansor dan Banser juga harus menjadi etalase Islam Indonesia.

“Anggota Ansor dan Banser tidak hanya menjadi etalase NU di Korea Selatan, tapi juga menjadi etalase Islam Indonesia. Tidak boleh bertindak kasar, tidak gampang menyalahkan orang lain, mesti toleran, membantu sesama. Harus menunjukkan sebagai muslim yang ramah agar tidak ada anggapan Islam itu mengerikan, suka teror, dan lain-lain,” kata Gus Yaqut dalam diklat terpadu dasar (DTD) sekaligus pengukuhan Pengurus Cabang GP Ansor Korea Selatan, Rabu (14/2).

Menurut Gus Yaqut, seluruh kader Ansor dan Banser wajib menjaga wajah Islam yang ramah, termasuk di Korsel.

“Masyarakat Korsel akan melihat wajah Islam dan Indonesia dari sahabat-sahabat Ansor dan Banser. Tugas berat, tapi saya yakin sahabat-sahabat mampu,” kata Gus Yaqut.

Dalam kesempatan itu, Gus Yaqut juga menyampaikan apresiasi tinggi atas semua aktivitas yang telah dilakukan dalam merawat dan mengembangkan NU, Ansor, dan Banser di Korsel.

“Salut saya dengan sahabat-sahabat semua yang telah merelakan waktu, tenaga, dan penghasilan untuk merawat NU, termasuk mendirikan Ansor dan Banser Korsel,” kata Gus Yaqut.

Gus Yaqut : ANSOR - BANSER Harus Menjadi Etalase Islam Indonesia

Unknown   at  Sabtu, Februari 17, 2018  No comments

Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas meminta semua kader Ansor dan Banser menunjukkan perilaku positif.

Menurut pria yang karib disapa Gus Yaqut itu, Ansor dan Banser tidak hanya menjadi etalase Nahdlatul Ulama (NU).

Gus Yaqut mengatakan, Ansor dan Banser juga harus menjadi etalase Islam Indonesia.

“Anggota Ansor dan Banser tidak hanya menjadi etalase NU di Korea Selatan, tapi juga menjadi etalase Islam Indonesia. Tidak boleh bertindak kasar, tidak gampang menyalahkan orang lain, mesti toleran, membantu sesama. Harus menunjukkan sebagai muslim yang ramah agar tidak ada anggapan Islam itu mengerikan, suka teror, dan lain-lain,” kata Gus Yaqut dalam diklat terpadu dasar (DTD) sekaligus pengukuhan Pengurus Cabang GP Ansor Korea Selatan, Rabu (14/2).

Menurut Gus Yaqut, seluruh kader Ansor dan Banser wajib menjaga wajah Islam yang ramah, termasuk di Korsel.

“Masyarakat Korsel akan melihat wajah Islam dan Indonesia dari sahabat-sahabat Ansor dan Banser. Tugas berat, tapi saya yakin sahabat-sahabat mampu,” kata Gus Yaqut.

Dalam kesempatan itu, Gus Yaqut juga menyampaikan apresiasi tinggi atas semua aktivitas yang telah dilakukan dalam merawat dan mengembangkan NU, Ansor, dan Banser di Korsel.

“Salut saya dengan sahabat-sahabat semua yang telah merelakan waktu, tenaga, dan penghasilan untuk merawat NU, termasuk mendirikan Ansor dan Banser Korsel,” kata Gus Yaqut.

Baca Selengkapnya→

Sabtu, 01 April 2017

Mahrus Ali - SantriNews.com
Surabaya – Menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bukan hanya kewajiban Gerakan Pemuda Ansor dan Banser. Seluruh elemen anak bangsa berkewajiban untuk melawan segala bentuk rongrongan terhadap NKRI seperti gerakan khilafah yang diusung HTI.

Demikian disampaikan Kepala (Satkorwil) Banser Jatim H Moh. Abid Umar Faruq setelah menyaksikan penolakan GP Ansor dan Banser yang terjadi di berbagai daerah di Jatim berkaitan dengan agenda Tabligh Akbar HTI yang akan dilaksanakan di Masjid Al Akbar Surabaya, pada 2 April 2017.

Menurut Abid Umar, pemerintah mestinya bisa lebih sensitif menyaksikan semua itu ketimbang GP Ansor dan Banser. Karena yang terancam NKRI, eksistensi Pancasila. Adalah tugas negara, pemerintah untuk menjaga NKRI. Bukan hanya dalam slogan, tetapi tindakan.

“HTI ini jelas, dan terang benderang adalah organisasi makar yang tidak mengakui dan menolak Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945 sebagai ideologi bangsa dan konstitusi RI. Keberadaan HTI jelas mengancam keutuhan NKRI dan memecah belah generasi anak negeri,” tegasnya.

Di samping itu, tambahnya, penerapan khilafah HTI tidak mempunyai dasar dan ahistoris, semata-mata hanya merupakan bagian dari politisasi agama dan berlawanan dengan semangat kehidupan bermasyarakat, beragama dan berbangsa Indonesia.

“Karenanya, kami menyerukan kepada seluruh anak bangsa Indonesia, tidak terkecuali kepada kader Banser se-Jatim untuk bersama-sama membubarkan HTI dan sejenisnya di Tanah Air ini,” ujarnya.

Di akhir pernyataan, Abid bersama dengan seluruh Banser se Jatim mendesak agar pemerintah dan Polda Jatim untuk tidak sekali-kali memberikan idzin kegiatan HTI dan organisasi sejenis di wilayah Jawa Timur.

“Jika tidak, maka atas nama anak negeri, Banser berkewajiban untuk membubarkan segala bentuk kegiatan mereka (HTI),” pungkasnya. (rus/onk)

Banser Jatim: Organisasi Makar, HTI Wajib Diusir dari Indonesia

Unknown   at  Sabtu, April 01, 2017  No comments

Mahrus Ali - SantriNews.com
Surabaya – Menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bukan hanya kewajiban Gerakan Pemuda Ansor dan Banser. Seluruh elemen anak bangsa berkewajiban untuk melawan segala bentuk rongrongan terhadap NKRI seperti gerakan khilafah yang diusung HTI.

Demikian disampaikan Kepala (Satkorwil) Banser Jatim H Moh. Abid Umar Faruq setelah menyaksikan penolakan GP Ansor dan Banser yang terjadi di berbagai daerah di Jatim berkaitan dengan agenda Tabligh Akbar HTI yang akan dilaksanakan di Masjid Al Akbar Surabaya, pada 2 April 2017.

Menurut Abid Umar, pemerintah mestinya bisa lebih sensitif menyaksikan semua itu ketimbang GP Ansor dan Banser. Karena yang terancam NKRI, eksistensi Pancasila. Adalah tugas negara, pemerintah untuk menjaga NKRI. Bukan hanya dalam slogan, tetapi tindakan.

“HTI ini jelas, dan terang benderang adalah organisasi makar yang tidak mengakui dan menolak Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945 sebagai ideologi bangsa dan konstitusi RI. Keberadaan HTI jelas mengancam keutuhan NKRI dan memecah belah generasi anak negeri,” tegasnya.

Di samping itu, tambahnya, penerapan khilafah HTI tidak mempunyai dasar dan ahistoris, semata-mata hanya merupakan bagian dari politisasi agama dan berlawanan dengan semangat kehidupan bermasyarakat, beragama dan berbangsa Indonesia.

“Karenanya, kami menyerukan kepada seluruh anak bangsa Indonesia, tidak terkecuali kepada kader Banser se-Jatim untuk bersama-sama membubarkan HTI dan sejenisnya di Tanah Air ini,” ujarnya.

Di akhir pernyataan, Abid bersama dengan seluruh Banser se Jatim mendesak agar pemerintah dan Polda Jatim untuk tidak sekali-kali memberikan idzin kegiatan HTI dan organisasi sejenis di wilayah Jawa Timur.

“Jika tidak, maka atas nama anak negeri, Banser berkewajiban untuk membubarkan segala bentuk kegiatan mereka (HTI),” pungkasnya. (rus/onk)

Baca Selengkapnya→

Sabtu, 11 Maret 2017

Trenggalek ~ Gerakan Pemuda Ansor Cabang Trenggalek pada hari Sabtu, 11 Maret 2017 melaksanakan Rapat Kerja Cabang ke-2. Kegiatan tersebut diselenggarakan di Aula Gedung NU Cabang Trenggalek lantai III. Nampak hadir pada kegiatan Rakercab II antara lain Wakil Bupati Trenggalek, yaitu Sahabat H. Muhammad Nur Arifin, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Trenggalek, Pengurus Wilayah GP Ansor Jawa Timur, Pengurus PAC GP Ansor se Kabupaten Trenggalek, dan Pengurus Ranting se Kabupaten Trenggalek. Acara Rakercab II dibuka oleh Wakil Bupati Trenggalek. Dalam Sambutannya, wakil bupati menjelaskan bahwa Ansor Trenggalek harus lebih insten memberikan gerakan sosial yang berupa pelayanan/pertolongan maksimal kepada umat. Karena secara terminologi arti daripada Ansor adalah "penolong" itu katanya. 

"Gus, ditinjau dari terminologi sejarah, Ansor itu berarti penolong. Maka kita harus bergerak menolong sahabat-sahabat yang masih membutuhkan pertolongan". kata wakil bupati Trenggalek yang juga sebagai pengurus wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur itu.


Selain itu pada kegiatan Ansor kali ini ada yang lebih istimewa lagi, karena bersamaan dengan Rakercab II, juga dilaksanakan Akreditasi Organisasi oleh Team Assesor dari Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur. Akreditasi organisasi ini dikandung maksud untuk lebih memaksimalkan manajemen keorganisasian dalam hal keadministrasian. Dalam akreditasi organisasi, diikuti oleh 14 PAC GP Ansor se Kabupaten Trenggalek, yang meliputi : PAC GP Ansor Bendungan, PAC GP Ansor Pule, PAC GP Ansor Dongko, PAC GP Ansor Panggul, PAC GP Ansor Trenggalek, PAC GP Ansor Suruh, PAC GP Ansor Munjungan, PAC GP Ansor Gandusari, PAC GP Ansor Karangan, PAC GP Ansor Tugu, PAC GP Ansor Pogalan, PAC GP Ansor Durenan, PAC GP Ansor Kampak dan PAC GP Ansor Watulimo.

Berikut Dokumentasi Kegiatan Rakercab II Gerakan Pemuda Ansor Trenggalek dan Akreditasi Organisasi yang dilaksanakan oleh Team Assesor dari PW GP Ansor Jawa Timur.

Klik DISINI ....!!!


Kontributor : Murdiyanto

Akreditasi Organisasi dan Rakercab II GP Ansor Cabang Trenggalek

Unknown   at  Sabtu, Maret 11, 2017  No comments

Trenggalek ~ Gerakan Pemuda Ansor Cabang Trenggalek pada hari Sabtu, 11 Maret 2017 melaksanakan Rapat Kerja Cabang ke-2. Kegiatan tersebut diselenggarakan di Aula Gedung NU Cabang Trenggalek lantai III. Nampak hadir pada kegiatan Rakercab II antara lain Wakil Bupati Trenggalek, yaitu Sahabat H. Muhammad Nur Arifin, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Trenggalek, Pengurus Wilayah GP Ansor Jawa Timur, Pengurus PAC GP Ansor se Kabupaten Trenggalek, dan Pengurus Ranting se Kabupaten Trenggalek. Acara Rakercab II dibuka oleh Wakil Bupati Trenggalek. Dalam Sambutannya, wakil bupati menjelaskan bahwa Ansor Trenggalek harus lebih insten memberikan gerakan sosial yang berupa pelayanan/pertolongan maksimal kepada umat. Karena secara terminologi arti daripada Ansor adalah "penolong" itu katanya. 

"Gus, ditinjau dari terminologi sejarah, Ansor itu berarti penolong. Maka kita harus bergerak menolong sahabat-sahabat yang masih membutuhkan pertolongan". kata wakil bupati Trenggalek yang juga sebagai pengurus wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur itu.


Selain itu pada kegiatan Ansor kali ini ada yang lebih istimewa lagi, karena bersamaan dengan Rakercab II, juga dilaksanakan Akreditasi Organisasi oleh Team Assesor dari Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur. Akreditasi organisasi ini dikandung maksud untuk lebih memaksimalkan manajemen keorganisasian dalam hal keadministrasian. Dalam akreditasi organisasi, diikuti oleh 14 PAC GP Ansor se Kabupaten Trenggalek, yang meliputi : PAC GP Ansor Bendungan, PAC GP Ansor Pule, PAC GP Ansor Dongko, PAC GP Ansor Panggul, PAC GP Ansor Trenggalek, PAC GP Ansor Suruh, PAC GP Ansor Munjungan, PAC GP Ansor Gandusari, PAC GP Ansor Karangan, PAC GP Ansor Tugu, PAC GP Ansor Pogalan, PAC GP Ansor Durenan, PAC GP Ansor Kampak dan PAC GP Ansor Watulimo.

Berikut Dokumentasi Kegiatan Rakercab II Gerakan Pemuda Ansor Trenggalek dan Akreditasi Organisasi yang dilaksanakan oleh Team Assesor dari PW GP Ansor Jawa Timur.

Klik DISINI ....!!!


Kontributor : Murdiyanto
Baca Selengkapnya→

Rabu, 07 Desember 2016


Tulungagung, NU Online
Instruktur Nasional Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor KH Ahmad Nadhif mengatakan, NU dan Ansor beserta badan otonom NU lainnya didirikan bertujuan untuk memperjuangkan dan membentengi ajaran Ahlussunnah wal-Jama’ah (Aswaja).

Hal ini ditegaskannya saat menjadi pembicara dalam Pelatihan Kader Dasar (PKD) angkatan ke IV Pimpinan Cabang GP Ansor Tulungagung, 18 April lalu di Tiudan, Kecamatan Gondang, Tulungagung, Jawa Timur.

Untuk itu, kata pria yang akrab disapa Gus Nadhif, ini Ansor beserta Bansernya harus menjadi garda terdepan untuk mempertahankan dan mengembangkan ajaran Aswaja ini. “Tugas Ansor dan Banser adalah mempertahankan dan mengembangkan ajaran ini,” tandasnya.

Menurutnya, Aswaja adalah paham yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an, hadits, ijma’, dan qiyas. Dalam fiqih menganut pada mazhab yang empat, Imam Syafi’i, Hanafi, Maliki, dan Hanbali. Juga mengikuti Al-Asy’ari dan Al-Maturidi  dalam bidang akidah. Sementara dalam bidang tasawuf mengikuti Junaid Al-Baghdadi dan Imam Ghazali.

Aswaja diikuti mayoritas umat Islam di Indonesia khususnya NU. Karena di dalamnya mempuyai beragam konsep yang jelas dan dilandasi dengan dalil-dalil yang qath’i. Adapun salah satu konsep yang terkandung dalam ajaran Aswaja yaitu, tawasuth, tasamuh, tawazun, dan amar ma’ruf nahi mungkar.

Yang dimaksud tawasuth (moderat), adalah sebuah sikap keberagamaan yang tidak terjebak terhadap hal-hal yang sifatnya ekstrim. Tasamuh, sebuah sikap keberagamaan dan kemasyarakatan yang menerima kehidupan sebagai sesuatu yang beragam. Tawazun (seimbang), adalah sebuah keseimbangan keberagamaan dan kemasyarakatan yang bersedia menghitungkan berbagai sudut pandang, dan kemudian mengambil posisi yang seimbang proporsional. “Amar ma’ruf nahi mungkar, mengajak kepada kebaikan dan mencegah kepada kemungkaran,” katanya.

Ajaran Ahlussunnah wal-Jama’ah, lanjutnya, adalah sebagai benteng akidah amaliah warga NU. Tantangan besar yang dihadapi warga NU, yaitu mewaspadai beberapa aliran yang akhir-akhir ini mulai berkembang di Indonesia. 

Pelatihan Kader Dasar angkatan ke IV ini diikuti 84 peserta. Mereka utusan dari beberapa ranting GP Ansor di Kecamatan Gondang Tulungagung. Meski pelatihan tingkat Cabang, PKD angkatan IV ini termasuk pelatihan yang  istimewa karena dihadiri instruktur nasional. Selain Gus Nadhif, ada Kepala Satkornas Banser H Alfa Isneini, Abdul Azis, H Imam Kusnin Ahmad, dan beberapa instruktur PW Ansor Jawa Timur. 


Sumber : NU Online

Inilah Tujuan Didirikan dan Tugas GP Ansor

Unknown   at  Rabu, Desember 07, 2016  No comments


Tulungagung, NU Online
Instruktur Nasional Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor KH Ahmad Nadhif mengatakan, NU dan Ansor beserta badan otonom NU lainnya didirikan bertujuan untuk memperjuangkan dan membentengi ajaran Ahlussunnah wal-Jama’ah (Aswaja).

Hal ini ditegaskannya saat menjadi pembicara dalam Pelatihan Kader Dasar (PKD) angkatan ke IV Pimpinan Cabang GP Ansor Tulungagung, 18 April lalu di Tiudan, Kecamatan Gondang, Tulungagung, Jawa Timur.

Untuk itu, kata pria yang akrab disapa Gus Nadhif, ini Ansor beserta Bansernya harus menjadi garda terdepan untuk mempertahankan dan mengembangkan ajaran Aswaja ini. “Tugas Ansor dan Banser adalah mempertahankan dan mengembangkan ajaran ini,” tandasnya.

Menurutnya, Aswaja adalah paham yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an, hadits, ijma’, dan qiyas. Dalam fiqih menganut pada mazhab yang empat, Imam Syafi’i, Hanafi, Maliki, dan Hanbali. Juga mengikuti Al-Asy’ari dan Al-Maturidi  dalam bidang akidah. Sementara dalam bidang tasawuf mengikuti Junaid Al-Baghdadi dan Imam Ghazali.

Aswaja diikuti mayoritas umat Islam di Indonesia khususnya NU. Karena di dalamnya mempuyai beragam konsep yang jelas dan dilandasi dengan dalil-dalil yang qath’i. Adapun salah satu konsep yang terkandung dalam ajaran Aswaja yaitu, tawasuth, tasamuh, tawazun, dan amar ma’ruf nahi mungkar.

Yang dimaksud tawasuth (moderat), adalah sebuah sikap keberagamaan yang tidak terjebak terhadap hal-hal yang sifatnya ekstrim. Tasamuh, sebuah sikap keberagamaan dan kemasyarakatan yang menerima kehidupan sebagai sesuatu yang beragam. Tawazun (seimbang), adalah sebuah keseimbangan keberagamaan dan kemasyarakatan yang bersedia menghitungkan berbagai sudut pandang, dan kemudian mengambil posisi yang seimbang proporsional. “Amar ma’ruf nahi mungkar, mengajak kepada kebaikan dan mencegah kepada kemungkaran,” katanya.

Ajaran Ahlussunnah wal-Jama’ah, lanjutnya, adalah sebagai benteng akidah amaliah warga NU. Tantangan besar yang dihadapi warga NU, yaitu mewaspadai beberapa aliran yang akhir-akhir ini mulai berkembang di Indonesia. 

Pelatihan Kader Dasar angkatan ke IV ini diikuti 84 peserta. Mereka utusan dari beberapa ranting GP Ansor di Kecamatan Gondang Tulungagung. Meski pelatihan tingkat Cabang, PKD angkatan IV ini termasuk pelatihan yang  istimewa karena dihadiri instruktur nasional. Selain Gus Nadhif, ada Kepala Satkornas Banser H Alfa Isneini, Abdul Azis, H Imam Kusnin Ahmad, dan beberapa instruktur PW Ansor Jawa Timur. 


Sumber : NU Online
Baca Selengkapnya→

Ketua Umum PP GP Ansor H Yaqut Cholil Qoumas memeriksa gelar pasukan. Foto NU Online/Humas Satkorwil Kepri/16
Jakarta, NU Online 
Kepala Satuan Koordinasi Nasional (Satkornas) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) H Alfa Isnaeni, di Jakata, Senin (5/12) menegaskan, kader inti Gerakan Pemuda Ansor tersebut mempunyai tiga esensi harus dilakukan.
“Banser itu pengamal, pendakwah, dan penjaga Ahlussunnah wal Jama'ah atau Aswaja. Kalau amalannya bukan Aswaja, jelas bukan Banser,” kata dia.
Aswaja adalah aliran atau paham yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an, hadits, ijma’, dan qiyas yang menganut empat madzhab fiqh, Imam Syafi’i, Hanafi, Maliki, dan Hambali.
Nahdlatul Ulama (NU) didirikan diantaranya bertujuan untuk memperjuangkan dan membentengi ajaran Aswaja. Tahlilan, ziarah kubur, qunut, talqin, maulid nabi merupakan sejumlah amaliah Aswaja NU.
Mengenai Aswaja, Maulana Syekh Ali Jum'ah menyebut Aswaja tidak mengafirkan siapa pun, kecuali orang yang mengakui bahwa ia telah keluar dari Islam, juga orang yang keluar dari barisan umat Islam.
Aswaja juga tidak pernah mengafirkan orang yang salat menghadap kiblat. Aswaja tidak pernah menggiring manusia untuk mencari kekuasaan, menumpahkan darah, dan tidak pula mengikuti syahwat birahi (yang haram). 
Kasatkornas Banser itu lalu melanjutkan, cara mendakwahkan Aswaja bisa melalui beragam bidang, satu diantaranya  ialah ekonomi.
“Lalu seperti apa menjaga Aswaja? Apa yang dilakukan ulama kita, maka Banser harus menjaganya,” ujarnya.


Sumber : NU Online

Sudah Tahu Esensi Banser? Ini Penjelasannya

Unknown   at  Rabu, Desember 07, 2016  No comments

Ketua Umum PP GP Ansor H Yaqut Cholil Qoumas memeriksa gelar pasukan. Foto NU Online/Humas Satkorwil Kepri/16
Jakarta, NU Online 
Kepala Satuan Koordinasi Nasional (Satkornas) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) H Alfa Isnaeni, di Jakata, Senin (5/12) menegaskan, kader inti Gerakan Pemuda Ansor tersebut mempunyai tiga esensi harus dilakukan.
“Banser itu pengamal, pendakwah, dan penjaga Ahlussunnah wal Jama'ah atau Aswaja. Kalau amalannya bukan Aswaja, jelas bukan Banser,” kata dia.
Aswaja adalah aliran atau paham yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an, hadits, ijma’, dan qiyas yang menganut empat madzhab fiqh, Imam Syafi’i, Hanafi, Maliki, dan Hambali.
Nahdlatul Ulama (NU) didirikan diantaranya bertujuan untuk memperjuangkan dan membentengi ajaran Aswaja. Tahlilan, ziarah kubur, qunut, talqin, maulid nabi merupakan sejumlah amaliah Aswaja NU.
Mengenai Aswaja, Maulana Syekh Ali Jum'ah menyebut Aswaja tidak mengafirkan siapa pun, kecuali orang yang mengakui bahwa ia telah keluar dari Islam, juga orang yang keluar dari barisan umat Islam.
Aswaja juga tidak pernah mengafirkan orang yang salat menghadap kiblat. Aswaja tidak pernah menggiring manusia untuk mencari kekuasaan, menumpahkan darah, dan tidak pula mengikuti syahwat birahi (yang haram). 
Kasatkornas Banser itu lalu melanjutkan, cara mendakwahkan Aswaja bisa melalui beragam bidang, satu diantaranya  ialah ekonomi.
“Lalu seperti apa menjaga Aswaja? Apa yang dilakukan ulama kita, maka Banser harus menjaganya,” ujarnya.


Sumber : NU Online
Baca Selengkapnya→

Senin, 21 November 2016

Jakarta, ANSOR Online 
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menegaskan, pihaknya tak akan terlibat dalam Demo bela Islam jilid III yang rencananya digelar pada 2 Desember 2016 diJakarta Pusat oleh gerombolan yang mengklaim sebagai Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF MUI) tersebut.
Ketua PBNU Bidang Hukum dan HAM, Robikin Emhas, menegaskan bahwa warga Nahdlatul Ulama (NU) tidak akan ikut dan terlibat dalam demo itu. “Enggak ada anggota NU. NU tidak terlibat di situ,” ujarnya.
Menurutnya, PBNU telah memberikan pernyataan sikap mengenai kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan petahana gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok bahwa perkara itu harus terus diusut melalui jalur hukum.
Robikin mengimbau, seluruh pihak agar tidak melakukan tindakan-tindakan yang berpotensi mengurangi kedaulatan hukum. “Khusus keluarga PBNU, kami mengimbau agar tidak melakukan aksi tersebut, cukup gelar dzikir dan istighosah demi keutuhan NKRI” tegasnya.
Sekretaris PW GP Ansor Jawa Timur, H Ahmad Tamim menyerukan pada Seluruh elemen bangsa hendaknya dapat menahan diri terhadap permasalahan di negeri ini. Jangan sampai ada pihak yang ingin menekan aparat dengan maksud terselubung. Termasuk rencana demo yang akan dilakukan 2 Desember 2016 mendatang.
Aparat telah melakukan tindakan hukum, bahkan terlihat melakukan langkah yang sangat cepat dalam penanganan kasus ini, “Semua elemen bangsa semestinya tidak mempertaruhkan nilai-nilai dasar kebhinekaan Indonesia hanya dengan tujuan yang tidak beralasan,” katanya.
Sebagai bagian tidak terpisahkan dari bangsa ini, jutaan anggota Ansor Jawa Timur akan siap membela bila negara diganggu dan diancam kepentingan yang merusak. “Ansor akan menjadi garda terdepan membela kebhinekaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebagai kesepakatan final para muassis NU untuk berkhidmat bela agama bangsa negeri. NKRI harga mati,” tegas Gus Tamim.
Sebelumnya Kapolri Tito Karnavian mempertanyakan jika tetap ada demo lanjutan pasca Ahok dijadikan tersangka. Kata dia, kepolisian sudah berupaya maksimal dalam menyelidiki kasus tersebut. “Jadi kalau ada desakan-desakan untuk melakukan penahanan justru harus ditanyakan ada apa? Ini menghendaki proses hukum berjalan sesuai aturan Undang-undang yang berlaku di negara kita atau ingin memaksakan kehendak karena ada kehendak lain,” kata Tito di Mabes Polri.
Ditempat berbeda, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mengatakan prajurit TNI siap berjihad untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dia mengatakan menghargai setiap proses demokrasi, termasuk unjuk rasa yang dilakukan elemen masyarakat tertentu.
“Pihak-pihak yang memiliki niat untuk menghancurkan NKRI dinilai sebagai orang yang tidak beragama sehingga akan berhadapan dengan TNI, Polri, dengan seluruh masyarakat.” Pungkas Panglima TNI.
Sumber : ANSOR JATIM

NU, TNI dan Polri Siap Jaga NKRI

Unknown   at  Senin, November 21, 2016  

Jakarta, ANSOR Online 
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menegaskan, pihaknya tak akan terlibat dalam Demo bela Islam jilid III yang rencananya digelar pada 2 Desember 2016 diJakarta Pusat oleh gerombolan yang mengklaim sebagai Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF MUI) tersebut.
Ketua PBNU Bidang Hukum dan HAM, Robikin Emhas, menegaskan bahwa warga Nahdlatul Ulama (NU) tidak akan ikut dan terlibat dalam demo itu. “Enggak ada anggota NU. NU tidak terlibat di situ,” ujarnya.
Menurutnya, PBNU telah memberikan pernyataan sikap mengenai kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan petahana gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok bahwa perkara itu harus terus diusut melalui jalur hukum.
Robikin mengimbau, seluruh pihak agar tidak melakukan tindakan-tindakan yang berpotensi mengurangi kedaulatan hukum. “Khusus keluarga PBNU, kami mengimbau agar tidak melakukan aksi tersebut, cukup gelar dzikir dan istighosah demi keutuhan NKRI” tegasnya.
Sekretaris PW GP Ansor Jawa Timur, H Ahmad Tamim menyerukan pada Seluruh elemen bangsa hendaknya dapat menahan diri terhadap permasalahan di negeri ini. Jangan sampai ada pihak yang ingin menekan aparat dengan maksud terselubung. Termasuk rencana demo yang akan dilakukan 2 Desember 2016 mendatang.
Aparat telah melakukan tindakan hukum, bahkan terlihat melakukan langkah yang sangat cepat dalam penanganan kasus ini, “Semua elemen bangsa semestinya tidak mempertaruhkan nilai-nilai dasar kebhinekaan Indonesia hanya dengan tujuan yang tidak beralasan,” katanya.
Sebagai bagian tidak terpisahkan dari bangsa ini, jutaan anggota Ansor Jawa Timur akan siap membela bila negara diganggu dan diancam kepentingan yang merusak. “Ansor akan menjadi garda terdepan membela kebhinekaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebagai kesepakatan final para muassis NU untuk berkhidmat bela agama bangsa negeri. NKRI harga mati,” tegas Gus Tamim.
Sebelumnya Kapolri Tito Karnavian mempertanyakan jika tetap ada demo lanjutan pasca Ahok dijadikan tersangka. Kata dia, kepolisian sudah berupaya maksimal dalam menyelidiki kasus tersebut. “Jadi kalau ada desakan-desakan untuk melakukan penahanan justru harus ditanyakan ada apa? Ini menghendaki proses hukum berjalan sesuai aturan Undang-undang yang berlaku di negara kita atau ingin memaksakan kehendak karena ada kehendak lain,” kata Tito di Mabes Polri.
Ditempat berbeda, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mengatakan prajurit TNI siap berjihad untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dia mengatakan menghargai setiap proses demokrasi, termasuk unjuk rasa yang dilakukan elemen masyarakat tertentu.
“Pihak-pihak yang memiliki niat untuk menghancurkan NKRI dinilai sebagai orang yang tidak beragama sehingga akan berhadapan dengan TNI, Polri, dengan seluruh masyarakat.” Pungkas Panglima TNI.
Sumber : ANSOR JATIM
Baca Selengkapnya→

::: Simak berbagai info ANSOR Watulimo Online melalui media sosial Group Facebook Ansor Watulimo Klik DISINI ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email ansorwatulimo@gmail.com :::: Info pemasangan iklan, hubungi WA : 0813-3392-6979 :::

startMiner - free and simple next generation Bitcoin mining software

Selamat Datang!

COPYRIGHT © 2016 ANSOR WATULIMO. By Myanto Mahardika Supported By ANSORUNAPublished..Blogger Templates
Blogger templates. Proudly Powered by Blogger.