All Menu

Selamat Datang di Blog Gerakan Pemuda Ansor Anak Cabang Watulimo Kabupaten Trenggalek, Semoga bermanfaat dan membawa Berkah. Aamiin

Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Maret 2017

"Saya mendapat cerita dari guru saya Syeikh Yasin al-Fadani, kedatangan Islam di Indonesia mula-mula pada waktu perang Shiffin, yakni antara kelompok Muawwiyah dan kelompok Sayyidina Ali," tutur Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang tersebut.

Bahwa Negara mayoritas Islam itu pasti Islam datang di zaman-zaman masa keemasan. Kalau dalam Al-Quran disebut as-Sabiqunal al-Awwalun. Yaitu seratus tahun pertama sebagai zaman nabi-sahabat, seratus tahun kedua sebagai zaman tabi'in, dan seratus tahun ketiga zaman tabi'in tabiat.

Pada perang Shiffin, lanjut Mbah Maimoen, itu kemenangan pada kelompok Muawwiyah, sehingga Ali terpecah belah. Terpecah belahnya Ali ini menjadi empat kelompok, ada yang disebut khawarij, adanya kelompok Ali yang fanatik berlebihan, ada yang netral, dan ada kelompok kecil yang disebut anak-anak perahu.

"Anak-anak perahu ini bertekad untuk meninggalkan negeri Arab melalui teluk Persia. Kemudian dengan naik perahu pasrah kepada Allah dimana perahu itu akan sampai, dan dimana akan mendarat. Pertama kali mendarat, perahu mereka sampai di Medan," ungkap kiai sepuh yang kini berusia 91 tahun tersebut.

Oleh karena itu, di Medan walaupun Islamnya tidak besar tetapi ada sebuah istana yang dikagumi yakni bernama istana Maimoon. "Saya sendiri bertanya, kenapa disana ada istana yang bernama istana Maimoon?," guraunya sembari tertawa ringan didepan ratusan mahasiswa STAI Al-Anwar tersebut.

Dalam acara tersebut turut hadir pula sebagai narasumber utama KH Lukman Hakim Saifuddin yang menjabat sebagai Menteri Agama RI. Hadir pula KH Abdul Ghofur Maimoen (Ketua STAI Al-Anwar), H Abdul Hafidz (Bupati Rembang), KH Majid Kamil Maimoen (Ketua DPRD Rembang) dan beberapa undangan dari MWC NU Sarang.

"Di Medan itu kalau kita lihat, antara Medan dan Padang Panjang ada kuburan-kuburan yang tidak diketahui. Itu kata guru saya Syeikh Yasin merupakan jejak kedatangan dari bangsa Arab masuk ke Indonesia pertama kali sebagai penyebar Islam. Walaupun mereka tidak sengaja untuk menyebarkan, tujuan mereka untuk mengungsikan diri," tutupnya.

Sumber : http://www.muslimoderat.net/2016/10/mbah-maimoen-zubair-islam-masuk.html#ixzz4cdXGnX4U

Mbah Maimoen Zubair: Islam Masuk Indonesia pada Masa Sayyidina Ali

Unknown   at  Rabu, Maret 29, 2017  No comments

"Saya mendapat cerita dari guru saya Syeikh Yasin al-Fadani, kedatangan Islam di Indonesia mula-mula pada waktu perang Shiffin, yakni antara kelompok Muawwiyah dan kelompok Sayyidina Ali," tutur Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang tersebut.

Bahwa Negara mayoritas Islam itu pasti Islam datang di zaman-zaman masa keemasan. Kalau dalam Al-Quran disebut as-Sabiqunal al-Awwalun. Yaitu seratus tahun pertama sebagai zaman nabi-sahabat, seratus tahun kedua sebagai zaman tabi'in, dan seratus tahun ketiga zaman tabi'in tabiat.

Pada perang Shiffin, lanjut Mbah Maimoen, itu kemenangan pada kelompok Muawwiyah, sehingga Ali terpecah belah. Terpecah belahnya Ali ini menjadi empat kelompok, ada yang disebut khawarij, adanya kelompok Ali yang fanatik berlebihan, ada yang netral, dan ada kelompok kecil yang disebut anak-anak perahu.

"Anak-anak perahu ini bertekad untuk meninggalkan negeri Arab melalui teluk Persia. Kemudian dengan naik perahu pasrah kepada Allah dimana perahu itu akan sampai, dan dimana akan mendarat. Pertama kali mendarat, perahu mereka sampai di Medan," ungkap kiai sepuh yang kini berusia 91 tahun tersebut.

Oleh karena itu, di Medan walaupun Islamnya tidak besar tetapi ada sebuah istana yang dikagumi yakni bernama istana Maimoon. "Saya sendiri bertanya, kenapa disana ada istana yang bernama istana Maimoon?," guraunya sembari tertawa ringan didepan ratusan mahasiswa STAI Al-Anwar tersebut.

Dalam acara tersebut turut hadir pula sebagai narasumber utama KH Lukman Hakim Saifuddin yang menjabat sebagai Menteri Agama RI. Hadir pula KH Abdul Ghofur Maimoen (Ketua STAI Al-Anwar), H Abdul Hafidz (Bupati Rembang), KH Majid Kamil Maimoen (Ketua DPRD Rembang) dan beberapa undangan dari MWC NU Sarang.

"Di Medan itu kalau kita lihat, antara Medan dan Padang Panjang ada kuburan-kuburan yang tidak diketahui. Itu kata guru saya Syeikh Yasin merupakan jejak kedatangan dari bangsa Arab masuk ke Indonesia pertama kali sebagai penyebar Islam. Walaupun mereka tidak sengaja untuk menyebarkan, tujuan mereka untuk mengungsikan diri," tutupnya.

Sumber : http://www.muslimoderat.net/2016/10/mbah-maimoen-zubair-islam-masuk.html#ixzz4cdXGnX4U

Baca Selengkapnya→

Senin, 27 Maret 2017

Seperti yang dimaklumi bersama, Indonesia merupakan negara yang amat besar. Negara ini telah dikaruniakan oleh Allah SWT dengan limpahan kenikmatan yang beragam. Bentangan luas wilayah dari Sabang sampai Merauke, dengan luas daratan sepanjang 1.922.570 Km2 dan luas perairan 3.257.483 Km2, yakni terletak di antara 6° LU sampai 11° LS dan 95° BT sampai 141° BT. Ia memiliki setidaknya 17.000 pulau. Posisinya terletak di antara dua benua, yakni Asia dan Australia, dan di antara dua samudra, yakni Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, sehingga dikenal sebagai posisi silang (cross position). 

Letak geografis ini sangat strategis untuk negara Indonesia, sebab tidak hanya kondisi alam yang mempengaruhi kehidupan penduduk Indonesia, tetapi juga lintas benua dan samudera ini berpengaruh terhadap kebudayaan yang beragam, yakni dalam bidang seni, bahasa, peradaban, dan agama dengan keanekaragaman suku-bangsa yang dimiliki. 

Kondisi agama yang dianut oleh masyarakat Indonesia juga demikian beragam. Setidaknya ada 6 agama yang berkembang di Indonesia, yakni Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Cu. Berdasarkan Data Jumlah Penganut Agama dari Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, penganut agama Islam merupakan mayoritas, yakni sebanyak  207.176.162 jiwa (87,18%), disusul dengan penganut Kristen Protestan sebanyak 16.528.513 jiwa (6,96%), Katolik sebanyak 6.907,873 jiwa (2,91%), Hindu sebanyak 4.012.116 jiwa (1,69%), Buddha sebanyak 1.703.254 jiwa (0,72%), dan Kong Hu Cu sebanyak 117.091 jiwa (0,05%).

Sebagai agama mayoritas, Islam yang hadir di Indonesia merupakan Islam yang damai, Islam yang rahmatan lil’alamin, yakni Islam yang memiliki karakter tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (tenggang rasa) dan berkarakter keindonesiaan. Islam lahir dan berkembang selaras dengan kondisi budaya dan tradisi Indonesia. 

Relasi antara Islam dengan Indonesia yang dikembangkan di Indonesia mengambil format relasi substansialisik. Yakni, Indonesia bukanlah negara yang secara formal menjadi negara Islam, tetapi negara yang substantif menjamin keberlangsungan dan memenuhi semua kebutuhan dalam menjalankan kehidupan semua agama, termasuk agama Islam. 

Demikian juga, Islam di Indonesia adalah Islam yang menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karenanya, masyarakat muslim di Indonesia memiliki militansi kebangsaan (nasionalisme) yang bersatu padu dengan semangat keagamaan (keislaman). Masyarakat muslim memperjuangkan keindonesiaan dengan tanpa melupakan keislamannya; demikian juga Islam-Indonesia adalah Islam yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur keindonesiaan dan menegakkan jati diri bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Antara Islam dan Indonesia, keduanya tidak bisa dipisahkan. Inilah karakter Islam yang berkembang di Indonesia.

Dalam kondisi seperti ini, Islam di Indonesia sangat menghargai keragaman dan perbedaan baik agama, pendapat, maupun budaya. Perbedaan-perbedaan agama dan kultural ini tidak dipapahami sebagai lawan yang harus disisihkan, tetapi sebagai kawan sekaligus kekayaan bangsa yang terus dipelihara dan menjadi perekat bangsa. 

Semua itu dapat disatukan dan diikat dalam satu pandangan yang sangat prinsip dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang disusun oleh pendiri bangsa Indonesia yang kemudian dikenal dengan 4 Pilar Berbangsa-Indonesia, yakni Pancasila berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Keempat pilar berbangsa dan bernegara inilah yang menjadi penguat dan landasan bagi seluruh bangsa Indonesia sehingga Islam di Indonesia tampil dengan Islam yang penuh kedamaian.

Indonesia menjadi berpenduduk mayoritas muslim dan mengembangkan Islam yang rahmatan lil’alamin sesungguhnya itu tidak dapat dilepaskan dari peranan pondok pesantren. Melalui jaringan intelektual yang dikembangkan oleh pondok pesantren dan alumninya yang kemudian berperan dan mengakar pada sejumlah lembaga pendidikan Islam, seperti madrasah diniyah takmiliyah yang tersebar di setiap peloksok desa dan kelurahan, majelis taklim yang tersebar di hampir setiap RT dan RW, serta pengisi acara di sejumlah ceremoni peringatan hari besar Islam, serta tokoh-tokoh agama di tengah masyarakat pedesaan dan perkotaan, penyebaran dan penanaman nilai-nilai Islam kepada masyarakat luas sangat nyata. Dalam amatan sederhana, mereka-mereka inilah yang sesungguhnya sangat berperan dalam mempertahankan Islam di tengah masyarakat Indonesia. 

Pondok pesantren merupakan dunia tradisonal Islam yang mampu mewarisi dan memelihara kesinambungan tradisi Islam yang dikembangkan ulama dari masa ke masa, tidak terbatas pada periode tertentu. Ketahanan lembaga pesantren agaknya secara implisit menunjukkan bahwa dunia Islam tradisi dalam segi-segi tertentu masih tetap relevan di tengah perkembangan zaman. 

Keniscayaan bahwa pesantren tetap utuh hingga kini itu bukan hanya disebabkan oleh kemampuannya dalam melakukan akomodasi-akomodasi tertentu, tetapi juga lebih banyak disebabkan oleh karakter eksistensialnya. Karakter yang dimaksud adalah, sebagaimana dikatakan oleh Prof. Nurcholish Madjid, seorang cendekiawan muslim Indonesia, pesantren tidak hanya menjadi lembaga yang identik dengan makna keislaman, tetapi juga mengandung makna keaslian Indonesia (indigenous). Sebagai lembaga yang murni berkarakter keindonesiaan, pesantren muncul dan berkembang dari pengalaman sosiologis masyarakat lingkungannya, sehingga antara pesantren dengan komunitas lingkungannya memiliki keterkaitan erat yang tidak bisa terpisahkan. 

Di samping berkarakter keindonesiaan, pesantren senantiasa mentransmisikan pemahaman keagamaan Islam yang ramah, damai, toleran, saling menghargai, dan tidak radikal. Jauh dari doktrin terorisme, saling mengkafir-bid’ahkan, apalagi pembenaran atas gerakan takfiri dan letupan-letupan bom bunuh diri. Dalam kondisi Indonesia yang begitu pluralistik, pondok pesantren telah memainkan peranan yang strategis. Ia mampu melakukan penyebaran agama dan pemahaman yang damai, toleran, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan. 

Kita patut untuk melakukan revitalisasi atas budaya yang berkembang di pondok pesantren. Di antara budaya dimaksud pesantren adalah budaya ilmu pengetahuan, persaudaraan, dan saling gotong royong. Di pondok pesantren, dilatih dan dibiasakan untuk mendapatkan kekuatan dan semangat menimba ilmu pengetahuan yang tinggi. Para santri diajari dengan berbagai disiplin ilmu yang sangat luas sehingga tidak picik dan berwawasan sempit serta tidak mudah menyalahkan pendapat orang lain. 

Di pondok pesantren, para santri juga dilatih untuk saling membantu antar sesama. Meski santri itu berasal dari daerah yang berbeda, jika ia 
kehabisan bekal atau uang, dibantu dengan semampunya. Rasa persaudaraan antar santri benar-benar ditumbuhkembangkan dalam suasana kebersamaan di pondok pesantren. Demikian juga, para santri terbiasa dengan melakukan kegiatan secara bergotong royong, yang di sebagian pesantren dikenal dengan sebuta ro`an. Kebersihan, keamanaan, dan upaya melakukan perbaikan suatu bangunan di sekitar pesantren, dilakukan secara bersama-sama dengan penuh ketulusan dan keikhlasan. 

Budaya-budaya yang berkembang di pesantren ini sangat tepat untuk kemudian diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa secara luas. Jika budaya-budaya yang sudah terbiasa dilaksanakan di pesantren itu diterapkan di masyarakat, diyakini masyarakat Indonesia akan menjadi damai, tenteram, dan bahagia.

Pesantren telah mampu merekatkan dari berbagai perbedaan di masyarakat, sekaligus menjadi teladan dalam pembinaan masyarakat, termasuk dalam mengasah nilai-nilai kebangsaan dan keumatan. Oleh karenanya, pondok pesantren patut untuk menjadi garda terdepan dalam membangun bangsa ini, dengan pemahaman Islam yang rahmatan lil’alamin.


Oleh Suwendi
Penulis adalah alumnus Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon dan Pesantren Luhur Sabilussalam Ciputat


Sumber : NU Online

Islam Ramah dan Pondok Pesantren

Unknown   at  Senin, Maret 27, 2017  No comments

Seperti yang dimaklumi bersama, Indonesia merupakan negara yang amat besar. Negara ini telah dikaruniakan oleh Allah SWT dengan limpahan kenikmatan yang beragam. Bentangan luas wilayah dari Sabang sampai Merauke, dengan luas daratan sepanjang 1.922.570 Km2 dan luas perairan 3.257.483 Km2, yakni terletak di antara 6° LU sampai 11° LS dan 95° BT sampai 141° BT. Ia memiliki setidaknya 17.000 pulau. Posisinya terletak di antara dua benua, yakni Asia dan Australia, dan di antara dua samudra, yakni Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, sehingga dikenal sebagai posisi silang (cross position). 

Letak geografis ini sangat strategis untuk negara Indonesia, sebab tidak hanya kondisi alam yang mempengaruhi kehidupan penduduk Indonesia, tetapi juga lintas benua dan samudera ini berpengaruh terhadap kebudayaan yang beragam, yakni dalam bidang seni, bahasa, peradaban, dan agama dengan keanekaragaman suku-bangsa yang dimiliki. 

Kondisi agama yang dianut oleh masyarakat Indonesia juga demikian beragam. Setidaknya ada 6 agama yang berkembang di Indonesia, yakni Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Cu. Berdasarkan Data Jumlah Penganut Agama dari Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, penganut agama Islam merupakan mayoritas, yakni sebanyak  207.176.162 jiwa (87,18%), disusul dengan penganut Kristen Protestan sebanyak 16.528.513 jiwa (6,96%), Katolik sebanyak 6.907,873 jiwa (2,91%), Hindu sebanyak 4.012.116 jiwa (1,69%), Buddha sebanyak 1.703.254 jiwa (0,72%), dan Kong Hu Cu sebanyak 117.091 jiwa (0,05%).

Sebagai agama mayoritas, Islam yang hadir di Indonesia merupakan Islam yang damai, Islam yang rahmatan lil’alamin, yakni Islam yang memiliki karakter tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (tenggang rasa) dan berkarakter keindonesiaan. Islam lahir dan berkembang selaras dengan kondisi budaya dan tradisi Indonesia. 

Relasi antara Islam dengan Indonesia yang dikembangkan di Indonesia mengambil format relasi substansialisik. Yakni, Indonesia bukanlah negara yang secara formal menjadi negara Islam, tetapi negara yang substantif menjamin keberlangsungan dan memenuhi semua kebutuhan dalam menjalankan kehidupan semua agama, termasuk agama Islam. 

Demikian juga, Islam di Indonesia adalah Islam yang menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karenanya, masyarakat muslim di Indonesia memiliki militansi kebangsaan (nasionalisme) yang bersatu padu dengan semangat keagamaan (keislaman). Masyarakat muslim memperjuangkan keindonesiaan dengan tanpa melupakan keislamannya; demikian juga Islam-Indonesia adalah Islam yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur keindonesiaan dan menegakkan jati diri bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Antara Islam dan Indonesia, keduanya tidak bisa dipisahkan. Inilah karakter Islam yang berkembang di Indonesia.

Dalam kondisi seperti ini, Islam di Indonesia sangat menghargai keragaman dan perbedaan baik agama, pendapat, maupun budaya. Perbedaan-perbedaan agama dan kultural ini tidak dipapahami sebagai lawan yang harus disisihkan, tetapi sebagai kawan sekaligus kekayaan bangsa yang terus dipelihara dan menjadi perekat bangsa. 

Semua itu dapat disatukan dan diikat dalam satu pandangan yang sangat prinsip dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang disusun oleh pendiri bangsa Indonesia yang kemudian dikenal dengan 4 Pilar Berbangsa-Indonesia, yakni Pancasila berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Keempat pilar berbangsa dan bernegara inilah yang menjadi penguat dan landasan bagi seluruh bangsa Indonesia sehingga Islam di Indonesia tampil dengan Islam yang penuh kedamaian.

Indonesia menjadi berpenduduk mayoritas muslim dan mengembangkan Islam yang rahmatan lil’alamin sesungguhnya itu tidak dapat dilepaskan dari peranan pondok pesantren. Melalui jaringan intelektual yang dikembangkan oleh pondok pesantren dan alumninya yang kemudian berperan dan mengakar pada sejumlah lembaga pendidikan Islam, seperti madrasah diniyah takmiliyah yang tersebar di setiap peloksok desa dan kelurahan, majelis taklim yang tersebar di hampir setiap RT dan RW, serta pengisi acara di sejumlah ceremoni peringatan hari besar Islam, serta tokoh-tokoh agama di tengah masyarakat pedesaan dan perkotaan, penyebaran dan penanaman nilai-nilai Islam kepada masyarakat luas sangat nyata. Dalam amatan sederhana, mereka-mereka inilah yang sesungguhnya sangat berperan dalam mempertahankan Islam di tengah masyarakat Indonesia. 

Pondok pesantren merupakan dunia tradisonal Islam yang mampu mewarisi dan memelihara kesinambungan tradisi Islam yang dikembangkan ulama dari masa ke masa, tidak terbatas pada periode tertentu. Ketahanan lembaga pesantren agaknya secara implisit menunjukkan bahwa dunia Islam tradisi dalam segi-segi tertentu masih tetap relevan di tengah perkembangan zaman. 

Keniscayaan bahwa pesantren tetap utuh hingga kini itu bukan hanya disebabkan oleh kemampuannya dalam melakukan akomodasi-akomodasi tertentu, tetapi juga lebih banyak disebabkan oleh karakter eksistensialnya. Karakter yang dimaksud adalah, sebagaimana dikatakan oleh Prof. Nurcholish Madjid, seorang cendekiawan muslim Indonesia, pesantren tidak hanya menjadi lembaga yang identik dengan makna keislaman, tetapi juga mengandung makna keaslian Indonesia (indigenous). Sebagai lembaga yang murni berkarakter keindonesiaan, pesantren muncul dan berkembang dari pengalaman sosiologis masyarakat lingkungannya, sehingga antara pesantren dengan komunitas lingkungannya memiliki keterkaitan erat yang tidak bisa terpisahkan. 

Di samping berkarakter keindonesiaan, pesantren senantiasa mentransmisikan pemahaman keagamaan Islam yang ramah, damai, toleran, saling menghargai, dan tidak radikal. Jauh dari doktrin terorisme, saling mengkafir-bid’ahkan, apalagi pembenaran atas gerakan takfiri dan letupan-letupan bom bunuh diri. Dalam kondisi Indonesia yang begitu pluralistik, pondok pesantren telah memainkan peranan yang strategis. Ia mampu melakukan penyebaran agama dan pemahaman yang damai, toleran, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan. 

Kita patut untuk melakukan revitalisasi atas budaya yang berkembang di pondok pesantren. Di antara budaya dimaksud pesantren adalah budaya ilmu pengetahuan, persaudaraan, dan saling gotong royong. Di pondok pesantren, dilatih dan dibiasakan untuk mendapatkan kekuatan dan semangat menimba ilmu pengetahuan yang tinggi. Para santri diajari dengan berbagai disiplin ilmu yang sangat luas sehingga tidak picik dan berwawasan sempit serta tidak mudah menyalahkan pendapat orang lain. 

Di pondok pesantren, para santri juga dilatih untuk saling membantu antar sesama. Meski santri itu berasal dari daerah yang berbeda, jika ia 
kehabisan bekal atau uang, dibantu dengan semampunya. Rasa persaudaraan antar santri benar-benar ditumbuhkembangkan dalam suasana kebersamaan di pondok pesantren. Demikian juga, para santri terbiasa dengan melakukan kegiatan secara bergotong royong, yang di sebagian pesantren dikenal dengan sebuta ro`an. Kebersihan, keamanaan, dan upaya melakukan perbaikan suatu bangunan di sekitar pesantren, dilakukan secara bersama-sama dengan penuh ketulusan dan keikhlasan. 

Budaya-budaya yang berkembang di pesantren ini sangat tepat untuk kemudian diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa secara luas. Jika budaya-budaya yang sudah terbiasa dilaksanakan di pesantren itu diterapkan di masyarakat, diyakini masyarakat Indonesia akan menjadi damai, tenteram, dan bahagia.

Pesantren telah mampu merekatkan dari berbagai perbedaan di masyarakat, sekaligus menjadi teladan dalam pembinaan masyarakat, termasuk dalam mengasah nilai-nilai kebangsaan dan keumatan. Oleh karenanya, pondok pesantren patut untuk menjadi garda terdepan dalam membangun bangsa ini, dengan pemahaman Islam yang rahmatan lil’alamin.


Oleh Suwendi
Penulis adalah alumnus Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon dan Pesantren Luhur Sabilussalam Ciputat


Sumber : NU Online
Baca Selengkapnya→

Seorang muslim hidup di sebuah komunitas plural – seperti Dusun Kemiri, Desa Getas, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung – haruslah memiliki bekal pendidikan agama yang betul-betul matang. Matang dalam arti tidak hanya memiliki pengetahuan teks agama yang luas. Tetapi juga memiliki ketrampilan khusus dalam menerapkan universalitas dan fleksibelitas teks agama tersebut ke ruang publik. Sehingga, syariat sebagai komunikasi horisontal itu bisa terterapkan tanpa menodai iman sebagai komunikasi vertikal individu. 

Dusun Kemiri merupakan sebuah dusun kecil berpenduduk sekitar 900 jiwa. Terdiri dari pemeluk Buddha, Muslim, Kristen Protestan, dan Kristen Jawa. Pemeluk Buddha berjumlah sekitar 400 jiwa, Muslim 300 Jiwa, dan sisanya adalah Kristen Protestan dan Kristen Jawa. Pada akhir tahun 80-an, warga Kemiri masih mutlak memeluk Buddha. Kemudian pada awal tahun 90-an beberapa orang Buddha memeluk Islam dengan berbagai alasan, utamanya karena pernikahan. Sementara warga Kristiani kebanyakan adalah pendatang. Syiar Islam di Kemiri mulai tampak sejak seorang santri bernama Solihin bermukim di sana, setelah menikahi gadis mualaf setempat bernama Sumirah pada tahun 1992. Oleh warga muslim yang saat itu baru beberapa, Solihin dan Sumirah didaulat sebagai pemuka sekaligus guru ngaji desa. Sejak itu aktifitas dan syiar umat muslim mulai tampak. 

Keadaan topografi Dusun Kemiri terdiri dari lereng dan bukit-bukit tak bernama. Pemukiman warga berada pada kemiringan salah satu anakan bukit. Mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai petani. 79 hektar lahan digunakan sebagai pertanian basah, dan sisanya pertanian kering yang ditanami albasia dan kopi. Tanaman industri seperti ketela juga banyak dibudidaya. Para ibu memanfaatkan hasil ketela yang melimpah dengan mengolahnya menjadi lenteng dan keripik. Dan seperti masyarakat petani pada umumnya, masyarakat Kemiri sangat menjunjung tinggi nilai-nilai gotong-royong dan musyawarah. 

Di atas dusun, terdapat bukit yang menjadi induk dari bukit-bukit kecil di bawahnya. Namanya Gumuk Watu Payung (Bukit Watu Payung). Disebut payung karena di puncak terdapat pertapaan berupa sebuah rongga batu yang memayungi para petapa. Batu-batu raksasa di puncak, di cengkeram oleh akar-akaran pohon beringin besar sehingga tidak menggelinding. Di puncak, dibangun sebuah Vihara. Dan batu rongga itu kini dibangun sebuah kamar untuk bertapa. Gumuk Watu Payung digunakan sembahyang umat Buddha pada hari Selasa Kliwon, Jumat Kliwon, dan tanggal 1 Suro. Vihara di Gumuk Payung bukan satu-satunya. Di tengah pemukiman, terdapat dua Vihara lain yang digunakan sebagai persembahyangan harian, yaitu Vihara Avalokitesvara bagi aliran Mahayana, dan Vihara Damma Sosila bagi aliran Theravada. Umat Muslim memiliki satu masjid bernama Miftahul Jannah. Sementara umat Kristiani memiliki Gereja Sidang Jemaat Allah (Filadelfia). Sedang pemeluk Kristen Jawa tempat ibadahnya masih di salah satu rumah penduduk.

Kerukunan umat beragama di Kemiri saat ini, merupakan sebuah akumulasi sejarah yang lumayan panjang. Jika dirunut sejak awal, perpindahan agama sebagian warga Buddha ke Islam, sebetulnya bukan sebuah pemicu perselisihan yang berarti. Kebanyakan, warga Buddha yang diajarkan welas-asih itu, tidak mempersoalkan anak-cucu mereka untuk ikut mengaji. Artinya, warga Buddha di Kemiri itu, banyak yang anak-anaknya ikut mengaji di Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) asuhan Kiai Solihin, tapi belum memeluk Islam. Oleh Kiai Solihin anak-anak itu tidak lantas disyahadatkan. Bahkan, meski sore hari mereka mengaji, pada saban malamnya mereka juga masih rajin mengikuti orangtuanya kebaktian di Vihara. Kiai Solihin juga tidak pernah mensyaratkan apalagi memaksa anak-anak asuhnya yang beragama Buddha untuk membaca syahadat. Kata Kiai Solihin, “Kan, la ikraha fidîn. Tidak ada paksaan dalam agama. Nabi juga dulu pernah menerima Nasrani Najran yang ingin mengetahui Islam dengan menempatkan mereka di Masjid Nabawi”.  

Anak-anak Buddha yang ikut mengaji itu, yang orangtuanya masih memeluk Buddha, kebanyakan resmi memeluk Islam dengan membaca syahadat ketika sudah masuk sekolah menengah, kuliah, atau ketika sudah bekerja, ada juga yang saat menikah. Malah ada pula yang sudah mengaji dan bisa membaca Al-Quran tapi tidak masuk Islam. 

Dari itu, di Kemiri sangat umum ditemui struktur keluarga yang anggota-anggotanya berbeda agama. Terkadang, orangtua yang beragama Buddha, hidup seatap dengan anak, menantu, dan cucu yang beragama Islam atau Kristen. Seorang kakek beragama Buddha biasa mengantarkan cucunya pergi mengaji di Masjid. Atau seorang anak beragama Buddha mengantar ibunya ke pengajian desa sebelah.

Di Kemiri, Anda juga bisa menemukan keunikan berbusana. Jilbab misalnya. Pakaian yang menjadi simbol bagi muslimah itu, nyaris tidak berlaku di Kemiri. Ibu-ibu yang beragama Buddha dan Kristen, biasa ke pasar atau ke ladang memakai jilbab. Alasannya tentu bukan aurat, tetapi agar tidak kedinginan saat ke pasar subuh-subuh dan jika dipakai di ladang, jilbab terbukti efektif melindungi diri dari gigitan serangga jalang semisal nyamuk. Begitu juga peci dan sarung yang khas bapak-bapak muslim. Di sana, orang Buddha dan Kristen biasa memakai sarung saat malam. Dan memakai peci saat kondangan atau acara resmi lainnya. “Peci itu nasionalis. Semua presiden dan pejabat negara, baik Muslim maupun Non Muslim memakai peci,” kata Kiai Solihin.

Tapi budaya berjilbab itu bukan sesuatu yang begitu saja membudaya. Ada sejarah pahit di baliknya. Dulu, saat Bu Sumirah masih mualaf, kemudian mengaji di Pesantren Ridho Alloh Kaloran, tidak sedikit tetangganya yang mencemooh jilbab dan gamis yang dikenakannya. Bagi mereka, jilbab dan gamis adalah budaya asing. Sampai-sampai, Bu Sumirah dulu ketika berangkat ke pesantren masih memakai celana pendek dan tanpa jilbab. Baru sesampainya di desa Kaloran, Bu Sumirah berganti pakaian sebagaimana lumrahnya santri. Begitu pula saat Bu Sumirah pulang dari pesantren pada setiap Jumatnya, Bu Sumirah harus melepas jilbab dan kembali memakai celana pendeknya sebelum memasuki desanya. Begitu itu ia lakukan sampai ia menikah. Kata Bu Sumirah, “Meski saya dicemooh pakai jilbab. Dan meski membuka aurat itu bagi saja adalah hal yang dilarang dalam Islam. Tapi saya tidak pernah mengajak mereka untuk berjilbab. Apalagi mencemoohnya. Saya selalu ingat pesan guru saya bahwa dakwah dengan sikap itu lebih utama ketimbang memakai lisan,” begitu kenangnya. Dan setelah ketokohan dan sikap toleran pasangan Kiai Solihin dan Bu Sumirah diakui warga, barulah warga – yang non Muslim – turut pula tertarik untuk menggenakannya. 
***
Selain jilbab, perayaan hari-hari besar di Kemiri tidak kalah unik. Kerukunan antar umat beragama sangat tampak dalam acara itu. Ahad tanggal 12 bulan Rabiul Awal 1438 H/ 11 Desember 2016 M misalnya. Saya menyempatkan untuk datang ke acara muludan di Kemiri. Acaranya unik tidak seperti lumrahnya dusun lain. Lepas Isya, sebelum kitab Albarzanji dilantunkan di serambi Masjid Miftahul Janah, para lelaki tua-muda – baik muslim, budhis, maupun kristiani – berkumpul di rumah Bapak Kadus Waliyoto (52). Acaranya ramah tamah dengan jamuan ketan-juroh yang dibawa oleh masing-masing warga. Juroh adalah pemanis cair terbuat dari gula aren yang disiramkan di atas ketan. Ada juga yang membawa kolak pisang dan jenang candil. Acara ini bagian dari seremoni maulid tetapi dilakukan di tempat terpisah. Pak Kadus yang sekaligus tokoh Buddha memberi sambutan dengan menekankan kerukunan antar umat beragama. “Walaupun berbeda keyakinan, kita adalah warga Kemiri yang satu. Dan inilah Bhineka Tunggal Ika”, itu petikan sambutan Pak Kadus. Mbah Jumari (tokoh Muslim) menjadi pengabul malam itu dan Kiai Solihin membaca doa. 

Setelah acara makan ketan-juroh rampung dan warga non muslim pulang, saya dan warga muslim Kemiri langsung menuju Masjid Miftahul Jannah untuk membaca Albarzanji diiringi tabuh rebana, dan digemakan menggunakan toa masjid. Sehingga suara bacaannya terdengar jelas di antero Kemiri. Bahkan angin perbukitan membawanya jauh ke dusun-dusun sekitar. Meski begitu, tidak ada protes atau keberatan dari pemeluk agama lain. Saya kemudian menyimpulkan, mungkin acara ketan-juroh itu semacam permohonan permisi. Begitu.

Siangnya, lepas shalat Zuhur, pengajian dalam rangka Maulud Nabi di gelar di halaman masjid. Yang hadir di situ juga semua warga, baik muslim, budhis, maupun kristiani. Semua wanita berjilbab dan laki-laki mengenakan peci. Saya sama sekali tidak bisa membedakan mana yang muslim dan non muslim. Semua membaur dalam acara tersebut. Tidak ada tempat khusus hadirin muslim maupun non muslim. Bahkan warga non Muslim bisa duduk di serambi masjid. Acara pengajian itu menghadirkan seorang dai dari Temanggung. Kata Kiai Solihin, dalam setiap acara Muludan dan pegajian peringatan lain di Kemiri, ada beberapa aturan yang harus dipatuhi seorang pengisi acara, dan aturan itu merupakan kesepakatan warga demi terlestarinya kerukunan umat beragama. Di antaranya adalah tidak menggunakan kata-kata ‘kafir’, tidak menyingung penyembahan berhala serta zaman Jahiliyah.

Pernah, dulu tahun 1997 toleransi di Kemiri sedikit ternodai. Bahkan nyaris meletuskan konflik. Pemicunya seorang dai yang diundang mengisi acara tidak mengindahkan aturan itu. Dengan terang lagi lantang, dai itu mengangkat tema yang sangat sensitif seputar pasutri yang berbeda agama dan dengan menggunakan bahasa yang kasar. Padahal, ada sekitar 30-an kepala keluarga di Kemiri yang memiliki pasangan berbeda agama. Biasanya, salah satu dari pasutri tersebut mengikuti agama yang dipeluk anak atau cucunya. Tamsilnya, ada pasangan suami istri pemeluk Buddha yang anak gadisnya memeluk Islam karena pernikahan. Kemudian, ibu dari gadis itu ikut memeluk Islam sedang ayahnya tidak. Nah, setelah acara pengajian itu, suasana dusun Kemiri memanas. Beberapa warga Buddha tidak terima dan hendak meminta pertanggung jawaban Kiai Solihin sebagai panitia pengajian. Suasana semakin keruh ketika para pemuda Buddha juga terbakar suasana. Bahkan ada yang memprofokatori agar Kiai Solihin diculik lalu dibunuh. Mendengar isu itu, Kiai Solihin bersembunyi kemudian lari meminta bantuan warga Muslim dari dusun lain. Malamnya, sekitar empat mobil berpenumpang puluhan warga Muslim dari dusun lain datang hendak mencari pemuda Buddha. Suasana malam itu benar-benar panas. Terdengar teriakan-teriakan profokatif dari rombongan dari desa lain itu. Tapi beruntung, tidak lama beberapa kiai terpandang di wilayah sekitar, juga Kepala Desa, Kepala Dusun, dan Kapolsek turun tangan. Masyarakat yang terlibat didudukkan. Mereka sepakat berdamai setelah semua memaklumi bahwa sebenarnya; umat muslim Kemiri dalam hal ini panitia pengajian bukan bermaksud merusak suasana kerukunan umat beragama. Tetapi kejadian itu murni kesalahan oknum dai yang tidak tahu atau tidak mau tahu kearifan Kemiri yang sama sekali berbeda dengan dusun lain.
***
Di kesempatan lain, Kiai Solihin bertutur panjang lebar kepada saya mengenai suka duka berdakwah di Kemiri. “Harus ada formulasi syariat khusus di Kemiri,” katanya bukan mengeluh. Maklum, masyarakat Kemiri yang kebanyakan mualaf belum bisa menerima Islam dalam bentuk ajaran yang lumrah diajarkan di masyarakat lain. “Di dalam Islam itukan banyak khilafiyah atau perbedaan pendapat. Untuk itu, pemuka agama Islam di Kemiri itu harus kreatif mencari pendapat walaupun hanya pendapat daif dan meski dari mazhab lain,” begitu imbuhnya.

Contoh kasus di Kemiri yang menarik perhatian saya adalah banyaknya anjing. Saya kaget ketika Bu Sumirah mengatakan bahwa anjing-anjing itu bukan saja milik warga non Muslim. Tapi ada sekitar 20-an warga Muslim yang masih memelihara anjing. Memang bagi non muslim, anjing bukanlah binatang yang harus dijauhi. Anjing biasa dijual atau dikonsumsi di acara-acara tertentu seperti hari-hari besar dan pernikahan. Tapi bagi Muslim, anjing tentu saja bisa menganggu kesucian pakaian dan anggota badan yang berakibat tidak sahnya shalat. Akan tetapi, Kiai Solihin dalam hal ini, malah merasa tidak begitu pusing. Katanya, “Masalah najis anjing itukan ada perbedaan pendapat. Mazhab Hanafi mengatakan yang najis cuma mulut dan air liurnya saja. Jadi kalau menyentuh bagian lain ya tidak najis. Kemudian mazhab Maliki malah mengatakan anjing itu suci. Tidak najis. Meski menurut Maliki jilatan anjing wajib dibasuh tuju kali salah satunya dengan debu. Tapi alasannya bukan najis, namun taabudi (perintah yang tidak ada alasan logis). Sementara, al-ami la mazhaba lahu (orang awam itu tidak punya mazhab khusus), jadi ketika orang awam itu melakukan ibadah dan sudah cocok dengan salah satu pendapat mazhab apapun, maka ibadahnya sah,” begitu paparnya.

Paparan Kiai Solihin di atas, menyadarkan kita bahwa betapa luas hukum dalam Islam itu. Terutama dalam fikih. Pernah Kiai Solihin berkata begini, “Ulama itu tugasnya ngemong (membimbing) bukan mekso (memaksa). Kalau belum bisa berdiri dan berjalan ya harus kita papah, tapi kalau sudah bisa berjalan ya jangan dipapah lagi”. Saya kemudian menyimpulkan bahwa sangat dibutuhkan hati seluas samudera untuk bisa hidup di tengah masyarakat yang pluralistik.   
***
Yang unik lagi dari Kemiri adalah peringatan hari besar, seperti Idul Fitri, Idul Adha, Waisak, dan Natal. Ada juga perayaan lain yaitu Sadranan tiap Jumat Legi bulan Ruwah (Syaban), Suronan pada tanggal 1 Suro (Muharam), Merti Dusun atau Nyadran Kali setiap Senin Legi Ba’da Mulud (Rabiul Akhir). Di Kemiri, Idul Fitri dirayakan cukup meriah. Tidak hanya warga Muslim, tetapi umat Buddha dan Kristen juga ikut memeriahkan. Sebelum hari H mereka yang non Muslim juga turut meramaikan pasar untuk membeli bahan makanan dan pakaian baru. Dan kebanyakan, pakaian yang dibeli pun pakaian yang biasa dikenakan orang-orang Muslim. Lalu, pada tanggal 1 Syawal, seusai umat Muslim menunaikan shalat I’ed, umat Buddha dan Kristen juga ikut bersilaturahim atau disebut ujung. Sementara pakaian yang mereka kenakan adalah busana Muslim. Yang wanita berjilbab dengan bawahan semata kaki. Yang lelaki mengenakan peci dan baju koko. Mereka saling berkunjung dan bermaaf-maafan.

Perayaan Waisak adalah yang paling meriah. Sepanduk ucapan selamat dibentang di muka desa. Umbul-umbul dan bendera warna-warni berbaris di tepi jalan dan gang. Umat Buddha menggelar perayaan sehari semalam. Biasanya digelar setelah atau sebelum mereka mengikuti acara Waisak di Borobudur. Acara sehari semalam itu adalah pentas kebudayaan seperti Kuda Lumping, Soreng, Tayup, Ketoprak, dan Wayang yang digelar setelah kebaktian di Vihara. Kebaktian dilaksanakan dengan mengikutsertakan tokoh-tokoh Muslim dan Kristiani. Selain pentas seni, Waisak juga menjadi ajang silaturahim layaknya Idul Fitri. Rumah-rumah penduduk baik umat Buddha maupun non Buddha selalu dipenuhi aneka makanan di meja ruang tamu. Para penonton pentas budaya jika lapar atau dahaga, bisa mampir di rumah-rumah kerabat atau teman yang dikenalnya. 

Begitu pula dalam perayaan Natal. Memang Natal di Kemiri tidak semeriah Waisak dan Idul Fitri, tetapi suasana kerukunan juga sangat terasa di sana. Sama dengan acara Waisak, umat Kristiani juga menggundang tokoh umat lain dalam perayaan Natal di gereja. 

Ketika saya tanyakan kepada Kiai Solihin perihal umat muslim mengikuti kebaktian di Vihara dan Gereja, begini jawaban Kiai Solihin, “Umat Muslim itu harus kuat di dalam tapi lentur di luar. Artinya, iman di dalam hati harus teguh. Tetapi dalam bersikap tidak boleh kaku. Kami menghadiri Waisak dan Natal semata menghormati mereka sebagai tetangga. Bukan dalam rangka kami ikut peribadatan mereka. Di hati, kami tetap meyakini bahwa Islam adalah yang benar. Tapi itu haram jika kami utarakan secara verbal. Itu demi ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa). Bukankah Allah itu memaafkan orang-orang Muslim yang terdesak berkata kufur: “Kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (Dia tidak berdosa)”

Saya kemudian ingat, Surah Al-Kafirun yang memiliki ayat-ayat dengan pesan tandas tanpa bahasa keras. Surah Al-Kafirun memiliki aliterasi indah. Pengulangan bunyi ‘nun’ dan ‘dal’ yang dominan melahirkan kesedapan bunyi yang melenakan. Sementara pada saat surat itu turun, bangsa Arab bergitu besar memberikan apresiasi pada sastra. Mereka juga memiliki daya peka tajam akan keindahan syair, memiliki cita rasa tinggi akan kefasihan, serta memiliki intuisi menangkap rima, ritma, serta isi. Maka tidak sulit bagi kita untuk menggambarkan reaksi orang Qurays saat diperdengarkan surah itu. Yaitu hati yang luruh atau setidaknya surat itu mampu menunda mereka untuk melampiaskan murka. Itulah Islam, tegas dalam isi, toleran dan santun dalam berkomunikasi.

Selain begitu, surat itu diawali dengan kata amr (perintah) “katakanlah!”. Dibalik peletakkan kata itu, tersembunyi maksud toleransi. Sebab kalimah setelahnya adalah kalimah yang akan terdengar pedas “wahai orang-orang kafir.” Kata ‘kafir’ sangat rentan dianggap maki. Maka didahulukanlah kalimah “katakanlah!” karena dengan begitu, orang Qurays akan tahu bahwa yang mensifati mereka ‘kafir’ bukanlah Muhammad, tetapi Allah, dan dalam hal ini Muhammad hanyalah penyampai.
***
Toleransi juga sangat nampak dalam acara Suronan yang digelar saban tanggal 1 Suro atau tahun baru penanggalan Jawa. Sekalipun acara ini pada dasarnya budaya Jawa, bukan budaya agama tertentu, tetapi acara suronan di Kemiri di pusatkan di Vihara puncak Gumuk Payung. Umat Buddha sekecamatan Kaloran akan diundang karena acara intinya adalah prosesi pemandian patung Buddha. Umat Muslim dan Kristiani Kemiri juga diundang. Malah, tidak hanya diundang, tetapi mereka juga turut membayar iuran, seratus ribu bagi yang mampu dan seikhlasnya bagi yang tidak mampu.

Acara yang berkaitan dengan kematian dan sadranan, juga bisa menjadi sarana toleransi di tengah kemajemukan, seperti yang telah tertradisikan di Kemiri. Sebagaimana masyarakat Jawa pada umumnya, warga Kemiri juga menggunakan hitungan tujuh hari, empatpuluh, seratus, seribu, dan setahun, untuk acara kirim arwah. “Tujuh hari, empatpuluh dan seterusnya itu bukan ajaran Buddha, tetapi Jawa, untuk menghormati leluhur,” kata Pak Waliyoto. Di acara kirim arwah, biasanya sahibulhajat membuat ambengan atau nasi yang dibuat tumpeng dengan lauk ingkung atau ayam yang dimasak tanpa dipotong-potong serta sayuran dan sambal. Jumlah undangan tergantung kemampuan tuan rumah, bisa hanya se-RT bisa juga sedusun. Biasanya acara itu digelar seusai umat Muslim menunaikan ibadah shalat Isya. Adapun ritual doa, dilakukan menurut keyakinan almarhum. Para tamu hanya mengamini. Jika yang berdoa orang Buddha, maka para tamu mengamini dengan sikap sembah; telapak tangan dikatupkan didepan dagu atau dada. Jika yang berdoa orang Kristen, para tamu mengamini dengan mengatupkan telapak tangan dan melipat jari-jarinya. Jika yang berdoa muslim, maka para tamu mengamini dengan menengadahkan tangan. Jika kebetulan keyakinan sahibulhajat dan almarhum berbeda, semisal anaknya Buddha dan arwah bapaknya Muslim, maka biasanya anak tersebut meminta bantuan Kiai Solihin untuk mendoakan arwah tersebut. Begitu pula sebaliknya. Pemimpin doa disesuaikan dengan keyakinan arwah yang dikirimi doa, bukan keyakinan sahibulhajat.

Sementara sadranan Jumat Pon bulan Ruwah, biasanya dipusatkan di pemakaman desa. Kamis Paing sore warga desa biasanya kerja bakti besreh atau bersih-bersih rumput makam lalu dilanjutkan dengan nyekar atau menabur bunga di pusara leluhur. Paginya warga ke pemakaman lagi dengan membawa makanan. Sebelum nyadran dimulai, mereka berdoa terlebih dahulu di makam leluhur masing-masing. Orang Buddha berdoa dengan membakar dupa dan hio. Orang Kristen sebagian juga begitu, tapi sebagian lain hanya berdoa dengan tunduk. Sementara orang Muslim membaca Yasin dan tahlil atau salah satunya. Usai itu, mereka menggelar makan bersama di sepanjang jalan menuju kuburan. Daun pisang ditata rapi memanjang lalu nasi dan segenap lauk ditumpah di situ. Suasana sangat tampak raharja, sentosa, dan sangat Bhineka Tunggal Ika.
***
Islam yang diamalkan dan didakwahkan Kiai Solihin di Kemiri sebetulnya bukan hal yang baru. Kira-kira, begitu pulalah metode dakwah para wali dan ulama pada awal masuknya Islam dulu. Manhaj dakwah Islam adalah persuasif dengan mencari titik kompromi antara agama dengan tradisi dan budaya, senada dengan misi risalah yang kafah. 

Apa yang dilakukan Kiai Solihin dan warga Kemiri bukanlah mencampur adukan agama. Tetapi semata kondisi sosial kemasyarakatan yang menuntut demikian. Namun justru dengan begitu, Kiai Solihin dan Muslim Kemiri telah benar-benar membuktikan universalitas dan fleksibelitas syariat. Pula membuktikan bahwa Islam tidak menentang semangat ke-bhineka-an, bahwa Islam mengajarkan pentingnya ukhuwah wathaniyah atau persaudaraan sebangsa, dan yang terpenting adalah bahwa keberhasilannya berdakwah di Kemiri itu membuktikan bahwa sikap toleran adalah sebaik-baiknya manhaj dakwah di tengah kemajemukan.

Penulis adalah santri PP. Ridho Alloh, Temanggung.  
Tulisan ini menjadi juara pertama kompetesi Esai NU Online-INFID


Sumber : NU Online

Ngaji Toleransi di Kaki Bukit Watu Payung

Unknown   at  Senin, Maret 27, 2017  1 comment

Seorang muslim hidup di sebuah komunitas plural – seperti Dusun Kemiri, Desa Getas, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung – haruslah memiliki bekal pendidikan agama yang betul-betul matang. Matang dalam arti tidak hanya memiliki pengetahuan teks agama yang luas. Tetapi juga memiliki ketrampilan khusus dalam menerapkan universalitas dan fleksibelitas teks agama tersebut ke ruang publik. Sehingga, syariat sebagai komunikasi horisontal itu bisa terterapkan tanpa menodai iman sebagai komunikasi vertikal individu. 

Dusun Kemiri merupakan sebuah dusun kecil berpenduduk sekitar 900 jiwa. Terdiri dari pemeluk Buddha, Muslim, Kristen Protestan, dan Kristen Jawa. Pemeluk Buddha berjumlah sekitar 400 jiwa, Muslim 300 Jiwa, dan sisanya adalah Kristen Protestan dan Kristen Jawa. Pada akhir tahun 80-an, warga Kemiri masih mutlak memeluk Buddha. Kemudian pada awal tahun 90-an beberapa orang Buddha memeluk Islam dengan berbagai alasan, utamanya karena pernikahan. Sementara warga Kristiani kebanyakan adalah pendatang. Syiar Islam di Kemiri mulai tampak sejak seorang santri bernama Solihin bermukim di sana, setelah menikahi gadis mualaf setempat bernama Sumirah pada tahun 1992. Oleh warga muslim yang saat itu baru beberapa, Solihin dan Sumirah didaulat sebagai pemuka sekaligus guru ngaji desa. Sejak itu aktifitas dan syiar umat muslim mulai tampak. 

Keadaan topografi Dusun Kemiri terdiri dari lereng dan bukit-bukit tak bernama. Pemukiman warga berada pada kemiringan salah satu anakan bukit. Mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai petani. 79 hektar lahan digunakan sebagai pertanian basah, dan sisanya pertanian kering yang ditanami albasia dan kopi. Tanaman industri seperti ketela juga banyak dibudidaya. Para ibu memanfaatkan hasil ketela yang melimpah dengan mengolahnya menjadi lenteng dan keripik. Dan seperti masyarakat petani pada umumnya, masyarakat Kemiri sangat menjunjung tinggi nilai-nilai gotong-royong dan musyawarah. 

Di atas dusun, terdapat bukit yang menjadi induk dari bukit-bukit kecil di bawahnya. Namanya Gumuk Watu Payung (Bukit Watu Payung). Disebut payung karena di puncak terdapat pertapaan berupa sebuah rongga batu yang memayungi para petapa. Batu-batu raksasa di puncak, di cengkeram oleh akar-akaran pohon beringin besar sehingga tidak menggelinding. Di puncak, dibangun sebuah Vihara. Dan batu rongga itu kini dibangun sebuah kamar untuk bertapa. Gumuk Watu Payung digunakan sembahyang umat Buddha pada hari Selasa Kliwon, Jumat Kliwon, dan tanggal 1 Suro. Vihara di Gumuk Payung bukan satu-satunya. Di tengah pemukiman, terdapat dua Vihara lain yang digunakan sebagai persembahyangan harian, yaitu Vihara Avalokitesvara bagi aliran Mahayana, dan Vihara Damma Sosila bagi aliran Theravada. Umat Muslim memiliki satu masjid bernama Miftahul Jannah. Sementara umat Kristiani memiliki Gereja Sidang Jemaat Allah (Filadelfia). Sedang pemeluk Kristen Jawa tempat ibadahnya masih di salah satu rumah penduduk.

Kerukunan umat beragama di Kemiri saat ini, merupakan sebuah akumulasi sejarah yang lumayan panjang. Jika dirunut sejak awal, perpindahan agama sebagian warga Buddha ke Islam, sebetulnya bukan sebuah pemicu perselisihan yang berarti. Kebanyakan, warga Buddha yang diajarkan welas-asih itu, tidak mempersoalkan anak-cucu mereka untuk ikut mengaji. Artinya, warga Buddha di Kemiri itu, banyak yang anak-anaknya ikut mengaji di Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) asuhan Kiai Solihin, tapi belum memeluk Islam. Oleh Kiai Solihin anak-anak itu tidak lantas disyahadatkan. Bahkan, meski sore hari mereka mengaji, pada saban malamnya mereka juga masih rajin mengikuti orangtuanya kebaktian di Vihara. Kiai Solihin juga tidak pernah mensyaratkan apalagi memaksa anak-anak asuhnya yang beragama Buddha untuk membaca syahadat. Kata Kiai Solihin, “Kan, la ikraha fidîn. Tidak ada paksaan dalam agama. Nabi juga dulu pernah menerima Nasrani Najran yang ingin mengetahui Islam dengan menempatkan mereka di Masjid Nabawi”.  

Anak-anak Buddha yang ikut mengaji itu, yang orangtuanya masih memeluk Buddha, kebanyakan resmi memeluk Islam dengan membaca syahadat ketika sudah masuk sekolah menengah, kuliah, atau ketika sudah bekerja, ada juga yang saat menikah. Malah ada pula yang sudah mengaji dan bisa membaca Al-Quran tapi tidak masuk Islam. 

Dari itu, di Kemiri sangat umum ditemui struktur keluarga yang anggota-anggotanya berbeda agama. Terkadang, orangtua yang beragama Buddha, hidup seatap dengan anak, menantu, dan cucu yang beragama Islam atau Kristen. Seorang kakek beragama Buddha biasa mengantarkan cucunya pergi mengaji di Masjid. Atau seorang anak beragama Buddha mengantar ibunya ke pengajian desa sebelah.

Di Kemiri, Anda juga bisa menemukan keunikan berbusana. Jilbab misalnya. Pakaian yang menjadi simbol bagi muslimah itu, nyaris tidak berlaku di Kemiri. Ibu-ibu yang beragama Buddha dan Kristen, biasa ke pasar atau ke ladang memakai jilbab. Alasannya tentu bukan aurat, tetapi agar tidak kedinginan saat ke pasar subuh-subuh dan jika dipakai di ladang, jilbab terbukti efektif melindungi diri dari gigitan serangga jalang semisal nyamuk. Begitu juga peci dan sarung yang khas bapak-bapak muslim. Di sana, orang Buddha dan Kristen biasa memakai sarung saat malam. Dan memakai peci saat kondangan atau acara resmi lainnya. “Peci itu nasionalis. Semua presiden dan pejabat negara, baik Muslim maupun Non Muslim memakai peci,” kata Kiai Solihin.

Tapi budaya berjilbab itu bukan sesuatu yang begitu saja membudaya. Ada sejarah pahit di baliknya. Dulu, saat Bu Sumirah masih mualaf, kemudian mengaji di Pesantren Ridho Alloh Kaloran, tidak sedikit tetangganya yang mencemooh jilbab dan gamis yang dikenakannya. Bagi mereka, jilbab dan gamis adalah budaya asing. Sampai-sampai, Bu Sumirah dulu ketika berangkat ke pesantren masih memakai celana pendek dan tanpa jilbab. Baru sesampainya di desa Kaloran, Bu Sumirah berganti pakaian sebagaimana lumrahnya santri. Begitu pula saat Bu Sumirah pulang dari pesantren pada setiap Jumatnya, Bu Sumirah harus melepas jilbab dan kembali memakai celana pendeknya sebelum memasuki desanya. Begitu itu ia lakukan sampai ia menikah. Kata Bu Sumirah, “Meski saya dicemooh pakai jilbab. Dan meski membuka aurat itu bagi saja adalah hal yang dilarang dalam Islam. Tapi saya tidak pernah mengajak mereka untuk berjilbab. Apalagi mencemoohnya. Saya selalu ingat pesan guru saya bahwa dakwah dengan sikap itu lebih utama ketimbang memakai lisan,” begitu kenangnya. Dan setelah ketokohan dan sikap toleran pasangan Kiai Solihin dan Bu Sumirah diakui warga, barulah warga – yang non Muslim – turut pula tertarik untuk menggenakannya. 
***
Selain jilbab, perayaan hari-hari besar di Kemiri tidak kalah unik. Kerukunan antar umat beragama sangat tampak dalam acara itu. Ahad tanggal 12 bulan Rabiul Awal 1438 H/ 11 Desember 2016 M misalnya. Saya menyempatkan untuk datang ke acara muludan di Kemiri. Acaranya unik tidak seperti lumrahnya dusun lain. Lepas Isya, sebelum kitab Albarzanji dilantunkan di serambi Masjid Miftahul Janah, para lelaki tua-muda – baik muslim, budhis, maupun kristiani – berkumpul di rumah Bapak Kadus Waliyoto (52). Acaranya ramah tamah dengan jamuan ketan-juroh yang dibawa oleh masing-masing warga. Juroh adalah pemanis cair terbuat dari gula aren yang disiramkan di atas ketan. Ada juga yang membawa kolak pisang dan jenang candil. Acara ini bagian dari seremoni maulid tetapi dilakukan di tempat terpisah. Pak Kadus yang sekaligus tokoh Buddha memberi sambutan dengan menekankan kerukunan antar umat beragama. “Walaupun berbeda keyakinan, kita adalah warga Kemiri yang satu. Dan inilah Bhineka Tunggal Ika”, itu petikan sambutan Pak Kadus. Mbah Jumari (tokoh Muslim) menjadi pengabul malam itu dan Kiai Solihin membaca doa. 

Setelah acara makan ketan-juroh rampung dan warga non muslim pulang, saya dan warga muslim Kemiri langsung menuju Masjid Miftahul Jannah untuk membaca Albarzanji diiringi tabuh rebana, dan digemakan menggunakan toa masjid. Sehingga suara bacaannya terdengar jelas di antero Kemiri. Bahkan angin perbukitan membawanya jauh ke dusun-dusun sekitar. Meski begitu, tidak ada protes atau keberatan dari pemeluk agama lain. Saya kemudian menyimpulkan, mungkin acara ketan-juroh itu semacam permohonan permisi. Begitu.

Siangnya, lepas shalat Zuhur, pengajian dalam rangka Maulud Nabi di gelar di halaman masjid. Yang hadir di situ juga semua warga, baik muslim, budhis, maupun kristiani. Semua wanita berjilbab dan laki-laki mengenakan peci. Saya sama sekali tidak bisa membedakan mana yang muslim dan non muslim. Semua membaur dalam acara tersebut. Tidak ada tempat khusus hadirin muslim maupun non muslim. Bahkan warga non Muslim bisa duduk di serambi masjid. Acara pengajian itu menghadirkan seorang dai dari Temanggung. Kata Kiai Solihin, dalam setiap acara Muludan dan pegajian peringatan lain di Kemiri, ada beberapa aturan yang harus dipatuhi seorang pengisi acara, dan aturan itu merupakan kesepakatan warga demi terlestarinya kerukunan umat beragama. Di antaranya adalah tidak menggunakan kata-kata ‘kafir’, tidak menyingung penyembahan berhala serta zaman Jahiliyah.

Pernah, dulu tahun 1997 toleransi di Kemiri sedikit ternodai. Bahkan nyaris meletuskan konflik. Pemicunya seorang dai yang diundang mengisi acara tidak mengindahkan aturan itu. Dengan terang lagi lantang, dai itu mengangkat tema yang sangat sensitif seputar pasutri yang berbeda agama dan dengan menggunakan bahasa yang kasar. Padahal, ada sekitar 30-an kepala keluarga di Kemiri yang memiliki pasangan berbeda agama. Biasanya, salah satu dari pasutri tersebut mengikuti agama yang dipeluk anak atau cucunya. Tamsilnya, ada pasangan suami istri pemeluk Buddha yang anak gadisnya memeluk Islam karena pernikahan. Kemudian, ibu dari gadis itu ikut memeluk Islam sedang ayahnya tidak. Nah, setelah acara pengajian itu, suasana dusun Kemiri memanas. Beberapa warga Buddha tidak terima dan hendak meminta pertanggung jawaban Kiai Solihin sebagai panitia pengajian. Suasana semakin keruh ketika para pemuda Buddha juga terbakar suasana. Bahkan ada yang memprofokatori agar Kiai Solihin diculik lalu dibunuh. Mendengar isu itu, Kiai Solihin bersembunyi kemudian lari meminta bantuan warga Muslim dari dusun lain. Malamnya, sekitar empat mobil berpenumpang puluhan warga Muslim dari dusun lain datang hendak mencari pemuda Buddha. Suasana malam itu benar-benar panas. Terdengar teriakan-teriakan profokatif dari rombongan dari desa lain itu. Tapi beruntung, tidak lama beberapa kiai terpandang di wilayah sekitar, juga Kepala Desa, Kepala Dusun, dan Kapolsek turun tangan. Masyarakat yang terlibat didudukkan. Mereka sepakat berdamai setelah semua memaklumi bahwa sebenarnya; umat muslim Kemiri dalam hal ini panitia pengajian bukan bermaksud merusak suasana kerukunan umat beragama. Tetapi kejadian itu murni kesalahan oknum dai yang tidak tahu atau tidak mau tahu kearifan Kemiri yang sama sekali berbeda dengan dusun lain.
***
Di kesempatan lain, Kiai Solihin bertutur panjang lebar kepada saya mengenai suka duka berdakwah di Kemiri. “Harus ada formulasi syariat khusus di Kemiri,” katanya bukan mengeluh. Maklum, masyarakat Kemiri yang kebanyakan mualaf belum bisa menerima Islam dalam bentuk ajaran yang lumrah diajarkan di masyarakat lain. “Di dalam Islam itukan banyak khilafiyah atau perbedaan pendapat. Untuk itu, pemuka agama Islam di Kemiri itu harus kreatif mencari pendapat walaupun hanya pendapat daif dan meski dari mazhab lain,” begitu imbuhnya.

Contoh kasus di Kemiri yang menarik perhatian saya adalah banyaknya anjing. Saya kaget ketika Bu Sumirah mengatakan bahwa anjing-anjing itu bukan saja milik warga non Muslim. Tapi ada sekitar 20-an warga Muslim yang masih memelihara anjing. Memang bagi non muslim, anjing bukanlah binatang yang harus dijauhi. Anjing biasa dijual atau dikonsumsi di acara-acara tertentu seperti hari-hari besar dan pernikahan. Tapi bagi Muslim, anjing tentu saja bisa menganggu kesucian pakaian dan anggota badan yang berakibat tidak sahnya shalat. Akan tetapi, Kiai Solihin dalam hal ini, malah merasa tidak begitu pusing. Katanya, “Masalah najis anjing itukan ada perbedaan pendapat. Mazhab Hanafi mengatakan yang najis cuma mulut dan air liurnya saja. Jadi kalau menyentuh bagian lain ya tidak najis. Kemudian mazhab Maliki malah mengatakan anjing itu suci. Tidak najis. Meski menurut Maliki jilatan anjing wajib dibasuh tuju kali salah satunya dengan debu. Tapi alasannya bukan najis, namun taabudi (perintah yang tidak ada alasan logis). Sementara, al-ami la mazhaba lahu (orang awam itu tidak punya mazhab khusus), jadi ketika orang awam itu melakukan ibadah dan sudah cocok dengan salah satu pendapat mazhab apapun, maka ibadahnya sah,” begitu paparnya.

Paparan Kiai Solihin di atas, menyadarkan kita bahwa betapa luas hukum dalam Islam itu. Terutama dalam fikih. Pernah Kiai Solihin berkata begini, “Ulama itu tugasnya ngemong (membimbing) bukan mekso (memaksa). Kalau belum bisa berdiri dan berjalan ya harus kita papah, tapi kalau sudah bisa berjalan ya jangan dipapah lagi”. Saya kemudian menyimpulkan bahwa sangat dibutuhkan hati seluas samudera untuk bisa hidup di tengah masyarakat yang pluralistik.   
***
Yang unik lagi dari Kemiri adalah peringatan hari besar, seperti Idul Fitri, Idul Adha, Waisak, dan Natal. Ada juga perayaan lain yaitu Sadranan tiap Jumat Legi bulan Ruwah (Syaban), Suronan pada tanggal 1 Suro (Muharam), Merti Dusun atau Nyadran Kali setiap Senin Legi Ba’da Mulud (Rabiul Akhir). Di Kemiri, Idul Fitri dirayakan cukup meriah. Tidak hanya warga Muslim, tetapi umat Buddha dan Kristen juga ikut memeriahkan. Sebelum hari H mereka yang non Muslim juga turut meramaikan pasar untuk membeli bahan makanan dan pakaian baru. Dan kebanyakan, pakaian yang dibeli pun pakaian yang biasa dikenakan orang-orang Muslim. Lalu, pada tanggal 1 Syawal, seusai umat Muslim menunaikan shalat I’ed, umat Buddha dan Kristen juga ikut bersilaturahim atau disebut ujung. Sementara pakaian yang mereka kenakan adalah busana Muslim. Yang wanita berjilbab dengan bawahan semata kaki. Yang lelaki mengenakan peci dan baju koko. Mereka saling berkunjung dan bermaaf-maafan.

Perayaan Waisak adalah yang paling meriah. Sepanduk ucapan selamat dibentang di muka desa. Umbul-umbul dan bendera warna-warni berbaris di tepi jalan dan gang. Umat Buddha menggelar perayaan sehari semalam. Biasanya digelar setelah atau sebelum mereka mengikuti acara Waisak di Borobudur. Acara sehari semalam itu adalah pentas kebudayaan seperti Kuda Lumping, Soreng, Tayup, Ketoprak, dan Wayang yang digelar setelah kebaktian di Vihara. Kebaktian dilaksanakan dengan mengikutsertakan tokoh-tokoh Muslim dan Kristiani. Selain pentas seni, Waisak juga menjadi ajang silaturahim layaknya Idul Fitri. Rumah-rumah penduduk baik umat Buddha maupun non Buddha selalu dipenuhi aneka makanan di meja ruang tamu. Para penonton pentas budaya jika lapar atau dahaga, bisa mampir di rumah-rumah kerabat atau teman yang dikenalnya. 

Begitu pula dalam perayaan Natal. Memang Natal di Kemiri tidak semeriah Waisak dan Idul Fitri, tetapi suasana kerukunan juga sangat terasa di sana. Sama dengan acara Waisak, umat Kristiani juga menggundang tokoh umat lain dalam perayaan Natal di gereja. 

Ketika saya tanyakan kepada Kiai Solihin perihal umat muslim mengikuti kebaktian di Vihara dan Gereja, begini jawaban Kiai Solihin, “Umat Muslim itu harus kuat di dalam tapi lentur di luar. Artinya, iman di dalam hati harus teguh. Tetapi dalam bersikap tidak boleh kaku. Kami menghadiri Waisak dan Natal semata menghormati mereka sebagai tetangga. Bukan dalam rangka kami ikut peribadatan mereka. Di hati, kami tetap meyakini bahwa Islam adalah yang benar. Tapi itu haram jika kami utarakan secara verbal. Itu demi ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa). Bukankah Allah itu memaafkan orang-orang Muslim yang terdesak berkata kufur: “Kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (Dia tidak berdosa)”

Saya kemudian ingat, Surah Al-Kafirun yang memiliki ayat-ayat dengan pesan tandas tanpa bahasa keras. Surah Al-Kafirun memiliki aliterasi indah. Pengulangan bunyi ‘nun’ dan ‘dal’ yang dominan melahirkan kesedapan bunyi yang melenakan. Sementara pada saat surat itu turun, bangsa Arab bergitu besar memberikan apresiasi pada sastra. Mereka juga memiliki daya peka tajam akan keindahan syair, memiliki cita rasa tinggi akan kefasihan, serta memiliki intuisi menangkap rima, ritma, serta isi. Maka tidak sulit bagi kita untuk menggambarkan reaksi orang Qurays saat diperdengarkan surah itu. Yaitu hati yang luruh atau setidaknya surat itu mampu menunda mereka untuk melampiaskan murka. Itulah Islam, tegas dalam isi, toleran dan santun dalam berkomunikasi.

Selain begitu, surat itu diawali dengan kata amr (perintah) “katakanlah!”. Dibalik peletakkan kata itu, tersembunyi maksud toleransi. Sebab kalimah setelahnya adalah kalimah yang akan terdengar pedas “wahai orang-orang kafir.” Kata ‘kafir’ sangat rentan dianggap maki. Maka didahulukanlah kalimah “katakanlah!” karena dengan begitu, orang Qurays akan tahu bahwa yang mensifati mereka ‘kafir’ bukanlah Muhammad, tetapi Allah, dan dalam hal ini Muhammad hanyalah penyampai.
***
Toleransi juga sangat nampak dalam acara Suronan yang digelar saban tanggal 1 Suro atau tahun baru penanggalan Jawa. Sekalipun acara ini pada dasarnya budaya Jawa, bukan budaya agama tertentu, tetapi acara suronan di Kemiri di pusatkan di Vihara puncak Gumuk Payung. Umat Buddha sekecamatan Kaloran akan diundang karena acara intinya adalah prosesi pemandian patung Buddha. Umat Muslim dan Kristiani Kemiri juga diundang. Malah, tidak hanya diundang, tetapi mereka juga turut membayar iuran, seratus ribu bagi yang mampu dan seikhlasnya bagi yang tidak mampu.

Acara yang berkaitan dengan kematian dan sadranan, juga bisa menjadi sarana toleransi di tengah kemajemukan, seperti yang telah tertradisikan di Kemiri. Sebagaimana masyarakat Jawa pada umumnya, warga Kemiri juga menggunakan hitungan tujuh hari, empatpuluh, seratus, seribu, dan setahun, untuk acara kirim arwah. “Tujuh hari, empatpuluh dan seterusnya itu bukan ajaran Buddha, tetapi Jawa, untuk menghormati leluhur,” kata Pak Waliyoto. Di acara kirim arwah, biasanya sahibulhajat membuat ambengan atau nasi yang dibuat tumpeng dengan lauk ingkung atau ayam yang dimasak tanpa dipotong-potong serta sayuran dan sambal. Jumlah undangan tergantung kemampuan tuan rumah, bisa hanya se-RT bisa juga sedusun. Biasanya acara itu digelar seusai umat Muslim menunaikan ibadah shalat Isya. Adapun ritual doa, dilakukan menurut keyakinan almarhum. Para tamu hanya mengamini. Jika yang berdoa orang Buddha, maka para tamu mengamini dengan sikap sembah; telapak tangan dikatupkan didepan dagu atau dada. Jika yang berdoa orang Kristen, para tamu mengamini dengan mengatupkan telapak tangan dan melipat jari-jarinya. Jika yang berdoa muslim, maka para tamu mengamini dengan menengadahkan tangan. Jika kebetulan keyakinan sahibulhajat dan almarhum berbeda, semisal anaknya Buddha dan arwah bapaknya Muslim, maka biasanya anak tersebut meminta bantuan Kiai Solihin untuk mendoakan arwah tersebut. Begitu pula sebaliknya. Pemimpin doa disesuaikan dengan keyakinan arwah yang dikirimi doa, bukan keyakinan sahibulhajat.

Sementara sadranan Jumat Pon bulan Ruwah, biasanya dipusatkan di pemakaman desa. Kamis Paing sore warga desa biasanya kerja bakti besreh atau bersih-bersih rumput makam lalu dilanjutkan dengan nyekar atau menabur bunga di pusara leluhur. Paginya warga ke pemakaman lagi dengan membawa makanan. Sebelum nyadran dimulai, mereka berdoa terlebih dahulu di makam leluhur masing-masing. Orang Buddha berdoa dengan membakar dupa dan hio. Orang Kristen sebagian juga begitu, tapi sebagian lain hanya berdoa dengan tunduk. Sementara orang Muslim membaca Yasin dan tahlil atau salah satunya. Usai itu, mereka menggelar makan bersama di sepanjang jalan menuju kuburan. Daun pisang ditata rapi memanjang lalu nasi dan segenap lauk ditumpah di situ. Suasana sangat tampak raharja, sentosa, dan sangat Bhineka Tunggal Ika.
***
Islam yang diamalkan dan didakwahkan Kiai Solihin di Kemiri sebetulnya bukan hal yang baru. Kira-kira, begitu pulalah metode dakwah para wali dan ulama pada awal masuknya Islam dulu. Manhaj dakwah Islam adalah persuasif dengan mencari titik kompromi antara agama dengan tradisi dan budaya, senada dengan misi risalah yang kafah. 

Apa yang dilakukan Kiai Solihin dan warga Kemiri bukanlah mencampur adukan agama. Tetapi semata kondisi sosial kemasyarakatan yang menuntut demikian. Namun justru dengan begitu, Kiai Solihin dan Muslim Kemiri telah benar-benar membuktikan universalitas dan fleksibelitas syariat. Pula membuktikan bahwa Islam tidak menentang semangat ke-bhineka-an, bahwa Islam mengajarkan pentingnya ukhuwah wathaniyah atau persaudaraan sebangsa, dan yang terpenting adalah bahwa keberhasilannya berdakwah di Kemiri itu membuktikan bahwa sikap toleran adalah sebaik-baiknya manhaj dakwah di tengah kemajemukan.

Penulis adalah santri PP. Ridho Alloh, Temanggung.  
Tulisan ini menjadi juara pertama kompetesi Esai NU Online-INFID


Sumber : NU Online
Baca Selengkapnya→

Minggu, 26 Maret 2017


Muslimedianews.com ~ Saya tertarik dengan tulisan sahabat saya, Ahmad Tsauri, alumni Lirboyo dan murid Maulana Habib Lutfi bin Yahya di acount Facebook-nya. Ia menulis:

"...Kita juga akan sangat sulit melakukan gerakan riil jika generasi muda NU sendiri tidak begitu faham pemikiran, ajaran, kearifan, filosofi dan NU secara epistemologis. NU tidak lebih dari sekedar label. Jadi tidak perlu heran kalau ada NU rasa Wahabi, NU rasa HTI, NU rasa PKS, NU rasa Arab dll. Jika NU adalah proses pelembagaan kearifan Islam Indonesia yang mengakomodir otentisitas sekaligus lokalitas maka NU berbagai rasa itu bukan lagi NU. Melestarikan paham NU sama dengan menjaga keutuhan NKRI.."

Sepakat dengan Tsauri, menjadi nahdliyin itu tidak mudah. Jangan kira kalau anda tahlilan, maulidan, manaqiban, dan lain-lain anda sudah menjadi NU. Maka itu, para ulama NU menambahkan kata an-nahdliyah setelah ahlussunah wal jama'ah. Ini untuk membedakan Aswaja NU dengan Aswaja banyak rasa yang dikatakan Tsauri di atas.

Pengertian Aswaja An-Nahdliyah tidak hanya mencakup aspek normatif-teologis, yaitu mengikuti salah satu dari mazhab 4 dalam fiqh, Al-Asy'ari dan Al-Maturidi dalam akidah, dan Al-Junaid dan Al Ghazali dalam tasawuf; tapi juga meliputi sikap hidup (ideologi) yang terangkum dalam sikap tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), dan tawazun (seimbang, proporsional). Tiga prinsip ini menjadi landasan NU dalam menyikapi berbagai persoalan: kebangsaan, politik, sosial, ekonomi, budaya.

Dalam politik, garis politik NU adalah politik kebangsaan. Hadrotussyekh Hasyim Asy'ari menegaskan, nasionalisme dan agama tak bisa dipisahkan, keduanya saling menguatkan. "Agama saja saja tanpa nasionalisme tak bisa menyatukan bangsa, sementara nasionalisme tanpa agama akan kering nilai-nilai" demikian yang sering disampaikan oleh KH. Said Aqil Siradj, ketum PBNU. Inilah sikap tawazun (seimbang) NU dalam politik.

Sikap ini bukan tanpa resiko. Risikonya NU difitnah dengan berbagai macam tuduhan yang memanaskan telinga. Ingat, tahun 1965 ketika NU memutuskan bergabung dengan koalisi NASAKOM, tujuannya adalah untuk mengimbangi kekuatan PKI di pemerintahan, KH. Wahab Hasbullah dinyinyiri oleh Masyumi. Beliau difitnah sebagai antek PKI, gila jabatan, gila uang, dan tuduhan-tuduhan keji lainnya. Bahkan seorang tokoh Masyumi dengan penuh kebencian berkata, "jika kepala Kiyai Wahab dibelah, maka isinya adalah palu arit..".

Apa reaksi Kiyai Wahab? Cuek. Mungkin Mbah Wahab dalam kesendiriannya berkata, "biarlah sejarah yang akan membuktikan..". Dan sejarah memang telah membuktikannya, bahwa tindakan Mbah Wahab benar. Kebalikannya, Masyumi yang dibubarkan oleh Sukarno.

Kondisi saat ini agak-agak mirip dengan tahun 65-an. Tokoh-tokoh NU difitnah, di bully di medsos, dan terang-terangan di caci maki. Boleh jadi sejarah pun akan berulang, tentang siapa yang akan dibubarkan.

Politik kebangsaan yang diusung oleh NU juga menegaskan bahwa NU menolak ideologi khilafah dan turunannya, semacam NKRI bersyari'ah yang diperjuangkan oleh FPI dan kawan-kawannya.

NU menolak dakwah dengan cara-cara radikal (radikal ucapan dan tindakan) dan revolusioner, karena berpotensi mengancam keutuhan bangsa. Cara-cara demikian berpotensi menimbulkan perpecahan bangsa, karena pasti akan mendapat perlawanan dari kelompok nasionalis dan non muslim. Kaidah fiqh-nya, "menolak kehancuran lebih didahulukan daripada mengambil kemaslahatan".

Alhasil, jadilah NU kaffah. Jangan NU setengah. Setengah wahabi, setengah HTI, setengah PKS, apalagi setengah gila.. hehe Caranya dengan memahami dan mempelajari sejarah NU, Aswaja An-Nahdliyah, Nilai Dasar dan Perjuangan NU, ideologi NU, garis politik dan kebijakan NU, serta profil dan kiprah kiyai-kiyai dan tokoh-tokoh NU yang telah memberi warna dalam sejarah perjalanan bangsa ini. wallahua'lam

Penulis: Muhammad Imaduddin
Wakil Sekretaris Lembaga dakwah PBNU


Sumber : Muslimedia News

Menjadi Warga NU (Nahdliyyin) yang Kaffah

Unknown   at  Minggu, Maret 26, 2017  No comments


Muslimedianews.com ~ Saya tertarik dengan tulisan sahabat saya, Ahmad Tsauri, alumni Lirboyo dan murid Maulana Habib Lutfi bin Yahya di acount Facebook-nya. Ia menulis:

"...Kita juga akan sangat sulit melakukan gerakan riil jika generasi muda NU sendiri tidak begitu faham pemikiran, ajaran, kearifan, filosofi dan NU secara epistemologis. NU tidak lebih dari sekedar label. Jadi tidak perlu heran kalau ada NU rasa Wahabi, NU rasa HTI, NU rasa PKS, NU rasa Arab dll. Jika NU adalah proses pelembagaan kearifan Islam Indonesia yang mengakomodir otentisitas sekaligus lokalitas maka NU berbagai rasa itu bukan lagi NU. Melestarikan paham NU sama dengan menjaga keutuhan NKRI.."

Sepakat dengan Tsauri, menjadi nahdliyin itu tidak mudah. Jangan kira kalau anda tahlilan, maulidan, manaqiban, dan lain-lain anda sudah menjadi NU. Maka itu, para ulama NU menambahkan kata an-nahdliyah setelah ahlussunah wal jama'ah. Ini untuk membedakan Aswaja NU dengan Aswaja banyak rasa yang dikatakan Tsauri di atas.

Pengertian Aswaja An-Nahdliyah tidak hanya mencakup aspek normatif-teologis, yaitu mengikuti salah satu dari mazhab 4 dalam fiqh, Al-Asy'ari dan Al-Maturidi dalam akidah, dan Al-Junaid dan Al Ghazali dalam tasawuf; tapi juga meliputi sikap hidup (ideologi) yang terangkum dalam sikap tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), dan tawazun (seimbang, proporsional). Tiga prinsip ini menjadi landasan NU dalam menyikapi berbagai persoalan: kebangsaan, politik, sosial, ekonomi, budaya.

Dalam politik, garis politik NU adalah politik kebangsaan. Hadrotussyekh Hasyim Asy'ari menegaskan, nasionalisme dan agama tak bisa dipisahkan, keduanya saling menguatkan. "Agama saja saja tanpa nasionalisme tak bisa menyatukan bangsa, sementara nasionalisme tanpa agama akan kering nilai-nilai" demikian yang sering disampaikan oleh KH. Said Aqil Siradj, ketum PBNU. Inilah sikap tawazun (seimbang) NU dalam politik.

Sikap ini bukan tanpa resiko. Risikonya NU difitnah dengan berbagai macam tuduhan yang memanaskan telinga. Ingat, tahun 1965 ketika NU memutuskan bergabung dengan koalisi NASAKOM, tujuannya adalah untuk mengimbangi kekuatan PKI di pemerintahan, KH. Wahab Hasbullah dinyinyiri oleh Masyumi. Beliau difitnah sebagai antek PKI, gila jabatan, gila uang, dan tuduhan-tuduhan keji lainnya. Bahkan seorang tokoh Masyumi dengan penuh kebencian berkata, "jika kepala Kiyai Wahab dibelah, maka isinya adalah palu arit..".

Apa reaksi Kiyai Wahab? Cuek. Mungkin Mbah Wahab dalam kesendiriannya berkata, "biarlah sejarah yang akan membuktikan..". Dan sejarah memang telah membuktikannya, bahwa tindakan Mbah Wahab benar. Kebalikannya, Masyumi yang dibubarkan oleh Sukarno.

Kondisi saat ini agak-agak mirip dengan tahun 65-an. Tokoh-tokoh NU difitnah, di bully di medsos, dan terang-terangan di caci maki. Boleh jadi sejarah pun akan berulang, tentang siapa yang akan dibubarkan.

Politik kebangsaan yang diusung oleh NU juga menegaskan bahwa NU menolak ideologi khilafah dan turunannya, semacam NKRI bersyari'ah yang diperjuangkan oleh FPI dan kawan-kawannya.

NU menolak dakwah dengan cara-cara radikal (radikal ucapan dan tindakan) dan revolusioner, karena berpotensi mengancam keutuhan bangsa. Cara-cara demikian berpotensi menimbulkan perpecahan bangsa, karena pasti akan mendapat perlawanan dari kelompok nasionalis dan non muslim. Kaidah fiqh-nya, "menolak kehancuran lebih didahulukan daripada mengambil kemaslahatan".

Alhasil, jadilah NU kaffah. Jangan NU setengah. Setengah wahabi, setengah HTI, setengah PKS, apalagi setengah gila.. hehe Caranya dengan memahami dan mempelajari sejarah NU, Aswaja An-Nahdliyah, Nilai Dasar dan Perjuangan NU, ideologi NU, garis politik dan kebijakan NU, serta profil dan kiprah kiyai-kiyai dan tokoh-tokoh NU yang telah memberi warna dalam sejarah perjalanan bangsa ini. wallahua'lam

Penulis: Muhammad Imaduddin
Wakil Sekretaris Lembaga dakwah PBNU


Sumber : Muslimedia News
Baca Selengkapnya→

Tahun-tahun ini marak adanya sebuah raksasa besar penguasa dunia maya yaitu google. Google bagaikan sebuah pisau, akan menjadi baik jika dipegang oleh orang baik, pun juga sebaliknya akan menjadi jelek jika diperuntukkan kepada kejelekan.

Yang tak kalah maraknya juga fenomena google banyak juga digunakan oleh ustadz-ustadz karbitan, kiai-kiai musiman. Karena zaman terus berubah dan perubahan itu adalah suatu yang pasti maka kita tidak bisa terlepas keseharian dari pada produk google mulai dari google maps, google documen shearch engine dan sebagainya. 

Sebagian kalangan awam juga banyak terjebak belajar dari google yang mana kesalahan didapat karena dia belajar kepada artikel-artikel yang tidak tepat. Disini yang perlu digaris bawahi kaum Ahlus Sunnah Wal Jamaah masih kalah ratingnya dalam hal menulis dengan kaum sempalan. Sehingga banyak orang awam ataupun kalangan-kalangan intelektual yang tidak pernah mengaji agama, mengajinya langsung dengan google yang sumbernya tidak mutawatir dan dipertanyakan keshohihannya.

Oleh karenanya, jangan sampai kita mengaji langsung kepada google kecuali sudah ditashih oleh guru-guru kita, karena guru kita adalah Kyai, guru kita bersanad kapada Rasulullah SAW. Bolehlah kita menggunakan google untuk sekedar mencari referensi, untuk mencari wawasan dan disana juga terdapat website-website milik aswaja. Diantaranya adalah pissktb, nuonline, alwafa bi’ahdillah, annur2.net, sidogiri.net , Darul Ulum Jombang dan lain sebagainya.

Maka jika kita ingin belajar ilmu agama belajarlah kepada guru, mondoklah (Ayo Mondok, Pesantrenku Keren. Begitu kata Mbah Luqman At Tarmasi, Ketua Gerakan Ayo Mondok Nasional). Sekarang pesantren-pesantren juga tersedia google-google, juga tersedia laptop, dan tekhnologi-tekhnologi yang lain. Karena tekhnologi adalah anak zaman yang tidak akan pernah bisa ditinggalkan.

Dahulu saya pernah nyantri, pertama dirumah sendiri, setelah itu melanjutkan ke tsanawiyah Al-Falah, kemudian melanjutkan ke Yaman Darul Musthofa dibawah asuhan Al Habib Umar bin Hafidz. dan kadang pun sebagai manusia anak zaman, saya juga membuka google yang website-websitenya (keterangan-keterangannya diambil dari riwayat yang tsiqoh, penulis yang tsiqoh) yang terpenting bagaimana kita, jika tidak tahu kejelasan keterangannya tanya terlebih dahulu kepada guru. Sehingga tidak sampai terjerumus kepada mbah google, yang akibatnya mudah menyesatkan orang lain dan bahkan sampai menghalalkan darah sesama muslim.
Wallahul Musta’an.

من لاشيخ له فشيخه شيطان

Seseorang yang tidak mempunyau guru maka gurunya adalah Syetan Begitu kata Syekh Abdul Wahab As Sya’roni.

Salam Takdzim
Ahmad Zain Bad
AnNur II Bululawang Malang.



Sumber : SantriNews

Guruku Kiai, Bukan Google

Unknown   at  Minggu, Maret 26, 2017  

Tahun-tahun ini marak adanya sebuah raksasa besar penguasa dunia maya yaitu google. Google bagaikan sebuah pisau, akan menjadi baik jika dipegang oleh orang baik, pun juga sebaliknya akan menjadi jelek jika diperuntukkan kepada kejelekan.

Yang tak kalah maraknya juga fenomena google banyak juga digunakan oleh ustadz-ustadz karbitan, kiai-kiai musiman. Karena zaman terus berubah dan perubahan itu adalah suatu yang pasti maka kita tidak bisa terlepas keseharian dari pada produk google mulai dari google maps, google documen shearch engine dan sebagainya. 

Sebagian kalangan awam juga banyak terjebak belajar dari google yang mana kesalahan didapat karena dia belajar kepada artikel-artikel yang tidak tepat. Disini yang perlu digaris bawahi kaum Ahlus Sunnah Wal Jamaah masih kalah ratingnya dalam hal menulis dengan kaum sempalan. Sehingga banyak orang awam ataupun kalangan-kalangan intelektual yang tidak pernah mengaji agama, mengajinya langsung dengan google yang sumbernya tidak mutawatir dan dipertanyakan keshohihannya.

Oleh karenanya, jangan sampai kita mengaji langsung kepada google kecuali sudah ditashih oleh guru-guru kita, karena guru kita adalah Kyai, guru kita bersanad kapada Rasulullah SAW. Bolehlah kita menggunakan google untuk sekedar mencari referensi, untuk mencari wawasan dan disana juga terdapat website-website milik aswaja. Diantaranya adalah pissktb, nuonline, alwafa bi’ahdillah, annur2.net, sidogiri.net , Darul Ulum Jombang dan lain sebagainya.

Maka jika kita ingin belajar ilmu agama belajarlah kepada guru, mondoklah (Ayo Mondok, Pesantrenku Keren. Begitu kata Mbah Luqman At Tarmasi, Ketua Gerakan Ayo Mondok Nasional). Sekarang pesantren-pesantren juga tersedia google-google, juga tersedia laptop, dan tekhnologi-tekhnologi yang lain. Karena tekhnologi adalah anak zaman yang tidak akan pernah bisa ditinggalkan.

Dahulu saya pernah nyantri, pertama dirumah sendiri, setelah itu melanjutkan ke tsanawiyah Al-Falah, kemudian melanjutkan ke Yaman Darul Musthofa dibawah asuhan Al Habib Umar bin Hafidz. dan kadang pun sebagai manusia anak zaman, saya juga membuka google yang website-websitenya (keterangan-keterangannya diambil dari riwayat yang tsiqoh, penulis yang tsiqoh) yang terpenting bagaimana kita, jika tidak tahu kejelasan keterangannya tanya terlebih dahulu kepada guru. Sehingga tidak sampai terjerumus kepada mbah google, yang akibatnya mudah menyesatkan orang lain dan bahkan sampai menghalalkan darah sesama muslim.
Wallahul Musta’an.

من لاشيخ له فشيخه شيطان

Seseorang yang tidak mempunyau guru maka gurunya adalah Syetan Begitu kata Syekh Abdul Wahab As Sya’roni.

Salam Takdzim
Ahmad Zain Bad
AnNur II Bululawang Malang.



Sumber : SantriNews
Baca Selengkapnya→

Kyai Ahmad Ishomuddin
Pasca meninggalnya Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid), ada banyak kekhawatiran terhadap perkembangan Nahdlatul Ulama. Gus Dur adalah tokoh moderat yang dicintai berbagai kalangan. Seorang pelindung yang rela dijadikan tameng hinaan demi menyelamatkan orang lain. Mereka yang datang meminta suaka kepadanya.

Gus Dur tidak membeda-bedakan agama, pilihan politik, kelompok. Siapa yang minta perlindungan akan dirangkul dan diayomi. Di pundak Gus Dur inilah NU semakin banyak mengalami himpitan dan ancaman.

Gus Dur menjadi simbol pluralisme, ikon perlawanan terhadap ajaran kekerasan atas nama agama. Ia melawan arus, menunggang gelombang, menghadapi arah angin. Banyak orang membencinya karena tak memahami jalan pikirannya. Kemudian ketika mereka paham, baru menyesalinya.

Namun pelindung besar dengan segala kontroversinya itu telah pergi. Sementara di belakangnya, peperangan melawan radikalisme terus terjadi.

Kekhawatiran itu mungkin berlebihan, mengingat NU tumbuh dari tradisi. Jamiyah itu lahir untuk mempertahankan, bukan menciptakan kebaruan. Tradisi yang dipertahankan itu termasuk soal kaderisasi. Mungkin tak sebesar Gus Dur, namun selalu muncul generasi yang mewakili perjuangannya untuk berani melawan arus.

Perbedaan pendapat adalah sesuatu yang niscaya. Sejak pertama kali berdirinya NU juga sudah ada. Soal kentongan misalnya, KH Hasyim Asy’ari Tebuireng (Rais Akbar NU pertama) melarangnya, namun karena ada pandangan berbeda dari Kiai Faqih Maskumambang (Wakil Rais Aam NU), akhirnya dibolehkan di luar Tebuireng. Semua itu dilakukan demi menghargai perbedaan pendapat tadi. Bukan untuk mencari siapa paling benar.

Kiai Ahmad Ishomuddin adalah salah satu sosok yang, barangkali bisa mewakili gambaran itu. Meski tak seliberal Ulil Abshar Abdallah atau Mun’im Sirry, tapi keberanian untuk berbeda muncul juga dari dirinya. Kiai Ishomuddin memahami risiko, mengetahui batas tawadhu, tetapi kebenaran memang mesti disuarakan.

Dan untuk hal satu ini, wajar saja untuk berbeda pendapat. Ini bukan soal tendensi politik, apalagi tuduhan hina yang dilontarkan para pembully kepadanya. Ahok sama sekali tidak penting, tapi substansi persoalan inilah yang paling utama.

Kasus Ahok jelas politis karena MUI tanpa melewati proses tabayun (klarifikasi). Bagaimana mungkin memperoleh kebenaran jika melompati proses ini? Kebenaran seperti apa yang hendak dihasilkan jika menghilangkan asas praduga tak bersalah?
Atau jangan-jangan MUI telah mengambil-alih wewenang Tuhan? Yang bahkan ketika hendak menurunkan azab sekalipun masih memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri bagi umat lebih dulu. MUI bisa menyimpulkan persoalan tanpa perlu tabayyun? Luar biasa!

Bahkan Kiai Ishomuddin sendiri menyatakan tidak dilibatkan dalam persoalan itu. Padahal ia ada di komisi fatwa, komisi yang tepat untuk menjembatani kasus penistaan agama tersebut.

Namun MUI tak butuh fatwa, mereka membuat produk baru, yaitu sikap keagamaan. Yang katanya konon lebih tinggi dari fatwa. Apakah ini masuk akal?

Kasus penistaan agama itu jelas sengaja diplot demikian. Ahok harus dimasukkan bui tanpa proses tabayun. Dengan mengabaikan haknya untuk memberikan keterangan. MUI dan pemandu soraknya sengaja melewati tahapan fatwa yang di dalamnya ada orang yang berbeda pandangan seperti Kiai Ishomuddin. Agar jalan mereka mulus.

Untuk menghindari friksi, Kiai muda itu memberikan kesaksian secara personal. Sebagai seorang yang memahami agama dari tradisi pesantren. Bukan sebagai dosen UIN Raden Inten Lampung, Rais Syuriah PBNU, atau komisi fatwa MUI. Dan ini tetap dipersoalkan. Haknya sebagai warga negara untuk memberikan kesaksian dipermasalahkan.

Orang-orang telah mabuk kebenaran versi mereka sehingga kehilangan kewarasan. Selain menggunakan tameng agama, tak mau menyolatkan mayat, mereka juga melarang hak asasi warga negara yang dilindungi hukum. Pemaksaan kehendak itu ditunggangi kepentingan politik. Ingin hidup sendiri di Negara ini?

Dan cara berpikir paling nista itu adalah mempertanyakan kedalaman ilmu agama Kiai Ishomuddin karena belum berhaji. Mereka mungkin menganggap haji adalah simbol pencapaian ilmu. Haji itu ritual keagamaan. Syaratnya mampu. Haji berulang kali yang berpotensi riya justru dilarang. Ad hominem semacam itu hanya cara untuk merendahkan kiai muda itu. Dengan cara berpikir konyol.

Mereka tidak melihat kehidupan sederhananya. Sebagai seorang Rais Syuriah PBNU, ormas keagamaan terbesar, Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI, dan dosen UIN, ia dikabarkan masih ngontrak rumah. Bandingkan dengan ustadz kagetan di televisi itu. Kehidupan mereka begitu glamour, serba lebih, bahkan ada yang punya istri simpanan.

Ada banyak kiai muda dengan keteladanan Gus Dur, selain Ishomuddin, ada Gus Yahya Staquf, Gus Ghafur Maimoen, Gus Yaqut, Gus Syafiq Hasyim, Gus Akhmad Sahal, Gus Nadirsyah Hosen, Gus Sumanto Al-Qurthuby, Gus Sa’dullah, dan banyak lagi. Mereka tumbuh dalam dialektika pemikiran NU, tradisi NU, humor NU.

Mereka orang-orang yang siap berbeda pendapat dengan tetap menjunjung hormat. Di pundak kiai-kiai muda yang menyenangkan itulah kelak NU diletakkan.
Orang-orang ini jelas akan dihambat dan difitnah oleh para pendengki. Bagi yang mencintai NKRI, keragaman, keadilan, sudah semestinya mendukung dan menguatkan mereka. Jangan biarkan mereka berjuang sendiri.

Jika senior mereka, seperti KH Said Aqil Siraj (ketua umum PBNU) saja dimaki syiah, sesat, liberal, apalagi mereka ini yang memang terbuka pada dialektika ilmu pengetahuan dan memang besar di luaran. Akan ada banyak tantangan, jalan ke depan semakin terjal dan rawan gesekan.

Namun setidaknya mereka membuktikan, pengganti Gus Dur terus bermunculan di tubuh NU. Kyai-kyai muda NU yang menyenangkan dan mencerahkan. (suaraislam)


Sumber : SantriNews

Kiai Ishomuddin dan Kiai-kiai Muda NU Mencerahkan Pasca Gus Dur

Unknown   at  Minggu, Maret 26, 2017  

Kyai Ahmad Ishomuddin
Pasca meninggalnya Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid), ada banyak kekhawatiran terhadap perkembangan Nahdlatul Ulama. Gus Dur adalah tokoh moderat yang dicintai berbagai kalangan. Seorang pelindung yang rela dijadikan tameng hinaan demi menyelamatkan orang lain. Mereka yang datang meminta suaka kepadanya.

Gus Dur tidak membeda-bedakan agama, pilihan politik, kelompok. Siapa yang minta perlindungan akan dirangkul dan diayomi. Di pundak Gus Dur inilah NU semakin banyak mengalami himpitan dan ancaman.

Gus Dur menjadi simbol pluralisme, ikon perlawanan terhadap ajaran kekerasan atas nama agama. Ia melawan arus, menunggang gelombang, menghadapi arah angin. Banyak orang membencinya karena tak memahami jalan pikirannya. Kemudian ketika mereka paham, baru menyesalinya.

Namun pelindung besar dengan segala kontroversinya itu telah pergi. Sementara di belakangnya, peperangan melawan radikalisme terus terjadi.

Kekhawatiran itu mungkin berlebihan, mengingat NU tumbuh dari tradisi. Jamiyah itu lahir untuk mempertahankan, bukan menciptakan kebaruan. Tradisi yang dipertahankan itu termasuk soal kaderisasi. Mungkin tak sebesar Gus Dur, namun selalu muncul generasi yang mewakili perjuangannya untuk berani melawan arus.

Perbedaan pendapat adalah sesuatu yang niscaya. Sejak pertama kali berdirinya NU juga sudah ada. Soal kentongan misalnya, KH Hasyim Asy’ari Tebuireng (Rais Akbar NU pertama) melarangnya, namun karena ada pandangan berbeda dari Kiai Faqih Maskumambang (Wakil Rais Aam NU), akhirnya dibolehkan di luar Tebuireng. Semua itu dilakukan demi menghargai perbedaan pendapat tadi. Bukan untuk mencari siapa paling benar.

Kiai Ahmad Ishomuddin adalah salah satu sosok yang, barangkali bisa mewakili gambaran itu. Meski tak seliberal Ulil Abshar Abdallah atau Mun’im Sirry, tapi keberanian untuk berbeda muncul juga dari dirinya. Kiai Ishomuddin memahami risiko, mengetahui batas tawadhu, tetapi kebenaran memang mesti disuarakan.

Dan untuk hal satu ini, wajar saja untuk berbeda pendapat. Ini bukan soal tendensi politik, apalagi tuduhan hina yang dilontarkan para pembully kepadanya. Ahok sama sekali tidak penting, tapi substansi persoalan inilah yang paling utama.

Kasus Ahok jelas politis karena MUI tanpa melewati proses tabayun (klarifikasi). Bagaimana mungkin memperoleh kebenaran jika melompati proses ini? Kebenaran seperti apa yang hendak dihasilkan jika menghilangkan asas praduga tak bersalah?
Atau jangan-jangan MUI telah mengambil-alih wewenang Tuhan? Yang bahkan ketika hendak menurunkan azab sekalipun masih memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri bagi umat lebih dulu. MUI bisa menyimpulkan persoalan tanpa perlu tabayyun? Luar biasa!

Bahkan Kiai Ishomuddin sendiri menyatakan tidak dilibatkan dalam persoalan itu. Padahal ia ada di komisi fatwa, komisi yang tepat untuk menjembatani kasus penistaan agama tersebut.

Namun MUI tak butuh fatwa, mereka membuat produk baru, yaitu sikap keagamaan. Yang katanya konon lebih tinggi dari fatwa. Apakah ini masuk akal?

Kasus penistaan agama itu jelas sengaja diplot demikian. Ahok harus dimasukkan bui tanpa proses tabayun. Dengan mengabaikan haknya untuk memberikan keterangan. MUI dan pemandu soraknya sengaja melewati tahapan fatwa yang di dalamnya ada orang yang berbeda pandangan seperti Kiai Ishomuddin. Agar jalan mereka mulus.

Untuk menghindari friksi, Kiai muda itu memberikan kesaksian secara personal. Sebagai seorang yang memahami agama dari tradisi pesantren. Bukan sebagai dosen UIN Raden Inten Lampung, Rais Syuriah PBNU, atau komisi fatwa MUI. Dan ini tetap dipersoalkan. Haknya sebagai warga negara untuk memberikan kesaksian dipermasalahkan.

Orang-orang telah mabuk kebenaran versi mereka sehingga kehilangan kewarasan. Selain menggunakan tameng agama, tak mau menyolatkan mayat, mereka juga melarang hak asasi warga negara yang dilindungi hukum. Pemaksaan kehendak itu ditunggangi kepentingan politik. Ingin hidup sendiri di Negara ini?

Dan cara berpikir paling nista itu adalah mempertanyakan kedalaman ilmu agama Kiai Ishomuddin karena belum berhaji. Mereka mungkin menganggap haji adalah simbol pencapaian ilmu. Haji itu ritual keagamaan. Syaratnya mampu. Haji berulang kali yang berpotensi riya justru dilarang. Ad hominem semacam itu hanya cara untuk merendahkan kiai muda itu. Dengan cara berpikir konyol.

Mereka tidak melihat kehidupan sederhananya. Sebagai seorang Rais Syuriah PBNU, ormas keagamaan terbesar, Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI, dan dosen UIN, ia dikabarkan masih ngontrak rumah. Bandingkan dengan ustadz kagetan di televisi itu. Kehidupan mereka begitu glamour, serba lebih, bahkan ada yang punya istri simpanan.

Ada banyak kiai muda dengan keteladanan Gus Dur, selain Ishomuddin, ada Gus Yahya Staquf, Gus Ghafur Maimoen, Gus Yaqut, Gus Syafiq Hasyim, Gus Akhmad Sahal, Gus Nadirsyah Hosen, Gus Sumanto Al-Qurthuby, Gus Sa’dullah, dan banyak lagi. Mereka tumbuh dalam dialektika pemikiran NU, tradisi NU, humor NU.

Mereka orang-orang yang siap berbeda pendapat dengan tetap menjunjung hormat. Di pundak kiai-kiai muda yang menyenangkan itulah kelak NU diletakkan.
Orang-orang ini jelas akan dihambat dan difitnah oleh para pendengki. Bagi yang mencintai NKRI, keragaman, keadilan, sudah semestinya mendukung dan menguatkan mereka. Jangan biarkan mereka berjuang sendiri.

Jika senior mereka, seperti KH Said Aqil Siraj (ketua umum PBNU) saja dimaki syiah, sesat, liberal, apalagi mereka ini yang memang terbuka pada dialektika ilmu pengetahuan dan memang besar di luaran. Akan ada banyak tantangan, jalan ke depan semakin terjal dan rawan gesekan.

Namun setidaknya mereka membuktikan, pengganti Gus Dur terus bermunculan di tubuh NU. Kyai-kyai muda NU yang menyenangkan dan mencerahkan. (suaraislam)


Sumber : SantriNews
Baca Selengkapnya→

::: Simak berbagai info ANSOR Watulimo Online melalui media sosial Group Facebook Ansor Watulimo Klik DISINI ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email ansorwatulimo@gmail.com :::: Info pemasangan iklan, hubungi WA : 0813-3392-6979 :::

startMiner - free and simple next generation Bitcoin mining software

Selamat Datang!

COPYRIGHT © 2016 ANSOR WATULIMO. By Myanto Mahardika Supported By ANSORUNAPublished..Blogger Templates
Blogger templates. Proudly Powered by Blogger.