Dalam sebuah perjamuan duduklah seorang anak kecil bersama beberapa orang dewasa untuk makan bersama pada sebuah meja. Orang-orang dewasa yang tampak beritikad kurang baik ini mulai melirik porsi sajian anak kecil tersebut. Mereka mencari alasan untuk memperdayainya.
Di tengah perjamuan itu si anak mulai menangis.
“Kamu kenapa nak?” tanya mereka .
“Makanan ini masih panas. Sedangkan aku sudah lapar,” kata anak itu sambil tetap mencurigai mereka.
“Tinggalkan sejenak meja ini. Bermainlah dulu, sebentar makanan ini akan dingin,” kata mereka.
“Lho, kalian juga tidak meninggalkan sejenak meja ini?” (Alhafiz K)
*) Cerita ini diambil dari Akhbarruz Zhiraf wal Mutamajinin (Hikayat Orang Cerdik Pandai dan Orang “Gila”) karya Abdurrahman Al-Jauzi.
Unknown
at Senin, Maret 27, 2017
Dalam sebuah perjamuan duduklah seorang anak kecil bersama beberapa orang dewasa untuk makan bersama pada sebuah meja. Orang-orang dewasa yang tampak beritikad kurang baik ini mulai melirik porsi sajian anak kecil tersebut. Mereka mencari alasan untuk memperdayainya.
Di tengah perjamuan itu si anak mulai menangis.
“Kamu kenapa nak?” tanya mereka .
“Makanan ini masih panas. Sedangkan aku sudah lapar,” kata anak itu sambil tetap mencurigai mereka.
“Tinggalkan sejenak meja ini. Bermainlah dulu, sebentar makanan ini akan dingin,” kata mereka.
“Lho, kalian juga tidak meninggalkan sejenak meja ini?” (Alhafiz K)
*) Cerita ini diambil dari Akhbarruz Zhiraf wal Mutamajinin (Hikayat Orang Cerdik Pandai dan Orang “Gila”) karya Abdurrahman Al-Jauzi.
Baca Selengkapnya→
Imran bin Hitthan bertubuh gempal, pendek, dan wajah yang jauh dari lumayan. Meskipun demikian ia dianugerahi Allah seorang istri yang cantik, tinggi semampai, dan langsing.
Suatu hari ia menemui istrinya yang telah bersolek. Imran tak menguasai diri. Meskipun setiap hari bertemu, ia terkesima saat menjumpai istrinya. Imran berdiri terpaku. Tak bergerak. Tak berkata-kata. Hanya menatap dengan mata tak berkedip.
“Kenapa sih bang?” kata istrinya tersenyum.
“Demi Allah, engkau sungguh cantik,” jawab Imran terkagum.
“Untunglah, kita berdua kelak jadi penghuni surga.”
“Kau tahu darimana?” Imran bertanya heran.
“Allah menganugerahimu seorang istri rupawan seperti aku, lalu Kau bersyukur. Sedangkan aku diuji oleh Allah dengan takdir suami buruk rupa sepertimu, lalu aku bersabar. Bukankah orang yang bersabar dan bersyukur kelak menjadi penghuni surga?” (Alhafiz K)
*) Dikutip dari Akhbaruz Zhiraf wal Mutamajinin karya Ibnul Jauzi.
Unknown
at Senin, Maret 27, 2017
Imran bin Hitthan bertubuh gempal, pendek, dan wajah yang jauh dari lumayan. Meskipun demikian ia dianugerahi Allah seorang istri yang cantik, tinggi semampai, dan langsing.
Suatu hari ia menemui istrinya yang telah bersolek. Imran tak menguasai diri. Meskipun setiap hari bertemu, ia terkesima saat menjumpai istrinya. Imran berdiri terpaku. Tak bergerak. Tak berkata-kata. Hanya menatap dengan mata tak berkedip.
“Kenapa sih bang?” kata istrinya tersenyum.
“Demi Allah, engkau sungguh cantik,” jawab Imran terkagum.
“Untunglah, kita berdua kelak jadi penghuni surga.”
“Kau tahu darimana?” Imran bertanya heran.
“Allah menganugerahimu seorang istri rupawan seperti aku, lalu Kau bersyukur. Sedangkan aku diuji oleh Allah dengan takdir suami buruk rupa sepertimu, lalu aku bersabar. Bukankah orang yang bersabar dan bersyukur kelak menjadi penghuni surga?” (Alhafiz K)
*) Dikutip dari Akhbaruz Zhiraf wal Mutamajinin karya Ibnul Jauzi.
Baca Selengkapnya→