All Menu

Selamat Datang di Blog Gerakan Pemuda Ansor Anak Cabang Watulimo Kabupaten Trenggalek, Semoga bermanfaat dan membawa Berkah. Aamiin

Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 April 2017

Sebelum malaikat Izrail diperintah Allah SWT untuk mencabut nyawa Nabi Muhammad, Allah berpesan kepada malaikat Jibril
“Hai Jibril, jika kekasih-Ku menolaknya, laranglah Izrail melakukan tugasnya!” Sungguh berharganya manusia yang satu ini yang tidak lain adalah Nabi Muhammad SAW. Di rumah Nabi Muhammad SAW, Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.

“Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk sambil berkata, “Maafkanlah, ayahku sedang demam” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian Fatimah kembali menemani Nabi Muhammad SAW yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”. “Tak tahulah ayahku, sepertinya orang baru, karena baru sekali ini aku melihatnya” tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

“Ketahuilah wahai anakku, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakan tangisnya.
Malaikat maut pun datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut bersama menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah SWT dan penghulu dunia ini.

“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu” kata malaikat Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
“Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya malaikat ibril lagi.
“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar bahwa Allah berfirman kepadaku: Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya” kata malaikat Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya malaikat Izrail melakukan tugasnya. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
“Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
“Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat sekali maut ini, TIMPAKAN SAJA SEMUA SIKSA MAUT INI KEPADAKU, JANGAN PADA UMATKU”

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis-shalaati, wamaa malakat aimaanukum (peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu)”. Di luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii! (Umatku, umatku, umatku)”. Dan, berakhirlah hidup manusia yang paling mulia yang memberi sinaran itu.
Menurut jumhur ulama sebagian Sakitnya Sakarotulmaut Seluruh umat Nabi muhammad sudah dilimpahkan kepada Sayyidina muhammad.

Betapa mendalam cinta Rasulullah kepada kita ummatnya, bahkan diakhir kehidupannya hanya kita yang ada dalam fikirannya. Sakitnya sakaratul maut itu tetapi sedikit sekali kita mengingatnya bahkan untuk sekedar menyebut Mengagungkan Pangilan Nabinya.
Allahumma sholli 'alaa Sayyidina Muhammad wa 'ala ali Sayyidina Muhammad.

Mudah-mudahan kita termasuk ummatnya yg nanti di hari kiamat akan mendapatkan syafaat baginda Rosulullah SAW. Aamiin.

Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad.

PESAN RASULULLAH SAW SEBELUM WAFAT

Unknown   at  Sabtu, April 01, 2017  No comments

Sebelum malaikat Izrail diperintah Allah SWT untuk mencabut nyawa Nabi Muhammad, Allah berpesan kepada malaikat Jibril
“Hai Jibril, jika kekasih-Ku menolaknya, laranglah Izrail melakukan tugasnya!” Sungguh berharganya manusia yang satu ini yang tidak lain adalah Nabi Muhammad SAW. Di rumah Nabi Muhammad SAW, Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.

“Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk sambil berkata, “Maafkanlah, ayahku sedang demam” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian Fatimah kembali menemani Nabi Muhammad SAW yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”. “Tak tahulah ayahku, sepertinya orang baru, karena baru sekali ini aku melihatnya” tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

“Ketahuilah wahai anakku, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakan tangisnya.
Malaikat maut pun datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut bersama menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah SWT dan penghulu dunia ini.

“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu” kata malaikat Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
“Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya malaikat ibril lagi.
“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar bahwa Allah berfirman kepadaku: Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya” kata malaikat Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya malaikat Izrail melakukan tugasnya. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
“Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
“Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat sekali maut ini, TIMPAKAN SAJA SEMUA SIKSA MAUT INI KEPADAKU, JANGAN PADA UMATKU”

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis-shalaati, wamaa malakat aimaanukum (peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu)”. Di luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii! (Umatku, umatku, umatku)”. Dan, berakhirlah hidup manusia yang paling mulia yang memberi sinaran itu.
Menurut jumhur ulama sebagian Sakitnya Sakarotulmaut Seluruh umat Nabi muhammad sudah dilimpahkan kepada Sayyidina muhammad.

Betapa mendalam cinta Rasulullah kepada kita ummatnya, bahkan diakhir kehidupannya hanya kita yang ada dalam fikirannya. Sakitnya sakaratul maut itu tetapi sedikit sekali kita mengingatnya bahkan untuk sekedar menyebut Mengagungkan Pangilan Nabinya.
Allahumma sholli 'alaa Sayyidina Muhammad wa 'ala ali Sayyidina Muhammad.

Mudah-mudahan kita termasuk ummatnya yg nanti di hari kiamat akan mendapatkan syafaat baginda Rosulullah SAW. Aamiin.

Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad.

Baca Selengkapnya→

Senin, 27 Maret 2017


Tak semua ketentuan Allah mudah ditangkap nalar manusia. Ada sebagian yang sukar dicerna akal. Yang terakhir ini lazimnya menyangkut hal-hal spiritual. Banyak cerita yang dapat kita ambil pelajaran dari sana. Di antara satu contoh, kisah yang terjadi pada menteri ESDM Saudi Arabia, Hisham Mohieddin Nazer (31 August 1932-14 November 2015). Dia menjabat sebelum Dr. Zaki Yamani.

Hisham Mohieddin Nazer adalah pengikut paham arus utama negara tersebut: Wahabi. Ia tidak terbiasa ziarah kubur, tawasul, suwuk, dan semacamnya. 

Suatu ketika, anak Hisham sakit parah. Kepala anak menteri ini dipenuhi dengan belatung. Sampai ia dibawa berobat menuju Amerika untuk menjalani operasi serius bedah otak. Tak ayal, jika gagal akan terjadi kematian. 

Setelah dijadwalkan waktu yang telah ditentukan, tiba-tiba Hisham Nazer mendapat ilham dari Allah Ta'ala untuk ziarah ke makam Rasulullah Muhammad SAW. Dari Amerika, ia pun kembali ke Saudi dan menuju makam Nabi.

Sebetulnya agak asing baginya praktik ziarah kubur. Namun karena keadaan mendesak, menteri perminyakan ini melawan arus besar pemahaman yang telah lama ia ikuti. Hisham pergi ke makam Nabi, mengambil tanah makam untuk kemudian ia bawa ke Amerika.

Setelah sampai, debu-debu tanah makam ia lulurkan ke wajah dan kepala anaknya. Ajaibnya, pagi hari dokter yang memeriksa anak tersebut memperoleh hasilnya mencengangkan: anak itu sembuh total tanpa perlu operasi. 

Mulai saat itu, Hisham menjadi sering berziarah ke makam Rasulullah SAW, suka tawassul dan gemar mengunjungi wali-wali, dan kekasih-kekasih Allah Ta'ala.  

Dengan adanya cerita di atas, dapat kita ketahui bahwa dunia spiritual itu sangat penting. Bahkan hal itu menjadi pembeda antara orang yang beragama dan orang yang tidak beragama. Namun, semakin hari, orang Islam semakin dijauhkan dari dunia spiritual. Mereka hanya diajak pada hal rasional saja. (Ahmad Mundzir) 


Kisah ini disarikan dari ceramah KH Abdullah Qayyum Manshur, Lasem 


Sumber : NU Online

Kisah Sembuh dari Penyakit Berkah Ziarah Makam Nabi

Unknown   at  Senin, Maret 27, 2017  No comments


Tak semua ketentuan Allah mudah ditangkap nalar manusia. Ada sebagian yang sukar dicerna akal. Yang terakhir ini lazimnya menyangkut hal-hal spiritual. Banyak cerita yang dapat kita ambil pelajaran dari sana. Di antara satu contoh, kisah yang terjadi pada menteri ESDM Saudi Arabia, Hisham Mohieddin Nazer (31 August 1932-14 November 2015). Dia menjabat sebelum Dr. Zaki Yamani.

Hisham Mohieddin Nazer adalah pengikut paham arus utama negara tersebut: Wahabi. Ia tidak terbiasa ziarah kubur, tawasul, suwuk, dan semacamnya. 

Suatu ketika, anak Hisham sakit parah. Kepala anak menteri ini dipenuhi dengan belatung. Sampai ia dibawa berobat menuju Amerika untuk menjalani operasi serius bedah otak. Tak ayal, jika gagal akan terjadi kematian. 

Setelah dijadwalkan waktu yang telah ditentukan, tiba-tiba Hisham Nazer mendapat ilham dari Allah Ta'ala untuk ziarah ke makam Rasulullah Muhammad SAW. Dari Amerika, ia pun kembali ke Saudi dan menuju makam Nabi.

Sebetulnya agak asing baginya praktik ziarah kubur. Namun karena keadaan mendesak, menteri perminyakan ini melawan arus besar pemahaman yang telah lama ia ikuti. Hisham pergi ke makam Nabi, mengambil tanah makam untuk kemudian ia bawa ke Amerika.

Setelah sampai, debu-debu tanah makam ia lulurkan ke wajah dan kepala anaknya. Ajaibnya, pagi hari dokter yang memeriksa anak tersebut memperoleh hasilnya mencengangkan: anak itu sembuh total tanpa perlu operasi. 

Mulai saat itu, Hisham menjadi sering berziarah ke makam Rasulullah SAW, suka tawassul dan gemar mengunjungi wali-wali, dan kekasih-kekasih Allah Ta'ala.  

Dengan adanya cerita di atas, dapat kita ketahui bahwa dunia spiritual itu sangat penting. Bahkan hal itu menjadi pembeda antara orang yang beragama dan orang yang tidak beragama. Namun, semakin hari, orang Islam semakin dijauhkan dari dunia spiritual. Mereka hanya diajak pada hal rasional saja. (Ahmad Mundzir) 


Kisah ini disarikan dari ceramah KH Abdullah Qayyum Manshur, Lasem 


Sumber : NU Online
Baca Selengkapnya→

Tabayun artinya meminta penjelasan atau mengklarifikasi sebuah informasi sebelum bertindak terhadap informasi yang diterima. QS al-Hujurat ayat 6 meminta kita melakukan tabayun jika seorang fasiq membawa berita: "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu."

Tapi bagaimana kalau kejadiannya menimpa orang non-Muslim? Apakah kita harus tabayun juga? Mari simak kisah di bawah ini, yang saya ringkaskan dari riwayat yang tercantum dalam Kitab Sahih Bukhari, Sahih Muslim, dan lainnya.

Dalam masa perdamaian antara Nabi Muhammad dengan kaum Yahudi, Abdullah bin Sahl dan Muhayyishah pergi ke perkampungan Khaybar. Keduanya berpisah sesuai keperluan masing-masing, dan kemudian Muhayyishah menemukan Abdullah bin Sahl bersimbah darah, sudah meninggal dunia di sumur. Muhayyishah menuduh kaum Yahudi yang membunuh Abdullah bin Sahl karena mereka berada di perkampungan Yahudi. Kaum Yahudi membantahnya.

Singkat cerita Muhayyishah pulang dan menemui saudaranya Huwayshah yang lebih tua dan Abdurrahman bin Sahl (saudara almarhum). Mereka menemui Nabi Muhammad. Muhayyishah hendak bebricara, namun Nabi meminta yang lebih tua yang lebih dahulu berbicara. Huwayshah memulai pembicaraan disambung dengan Muhayyishah. Intinya mereka menuntut keadilan.

Mendengar kisah ini, apakah Nabi langsung menggerakkan pasukan ke perkampungan Yahudi? Tidak. Nabi melakukan proses tabayun atas tuduhan serius ini.

Nabi mengirim surat. Kaum Yahudi menjawab dengan mengatakan bahwa mereka tidak membunuh Abdullah bin Sahl. Atas bantahan itu, Nabi meminta Muhayyishah bersumpah. Namun Muhayyishah menolak karena memang dia tidak melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Abdullah bin Sahl dibunuh Yahudi. Bisa saja kan, dia terjatuh dari untanya saat mau meminum dari sumur. Masalah menjadi pelik karena kabar hanya dari satu orang yaitu Muhayyishah, yang bukan saja hanya berjumlah satu orang (tidak mencukupi syarat dua saksi) dan juga tidak mengetahui persis kejadiannya. Satu-satunya indikasi untuk menuduh Yahudi adalah peristiwanya terjadi di perkampungan Yahudi. Namun ini tidak cukup kuat, apalagi sudah dbantah oleh kaum Yahudi.

Opsinya adalah mengambil diyat (denda atas pembunuhan) atau memerangi Yahudi untuk menuntut balas. Yang mana yang Rasul akan ambil? Kalau diyat, tentu yang membunuh yang harus membayar. Tapi siapa pembunuhnya? Kalau Yahudi yang membunuh dan mereka menolak membayar diyat, maka bisa diperangi, tapi benarkah Yahudi yang membunuh Abdullah bin Sahl?

Nabi kemudian bertanya, "Jikalau 50 orang Yahudi bersumpah tidak membunuh, apakah kalian akan menerimanya?" Muhayyishah mengatakan, "Bagaimana kami bisa menerima sumpah dari non-Muslim? Kalau mereka berbohong bagaimana?"

Deadlock. Jalan buntu.

Pihak Muhayyishah menuntut keadilan. Yahudi membantah. Bayang-bayang peperangan di depan mata. Rasulullah mengambil keputusan yang luar biasa: beliau SAW memutuskan, beliau sendiri yang membayar diyat (denda) 100 ekor unta kepada keluarga Abdullah bin Sahl. Nabi rugi karena membayar dengan untanya sendiri. Tapi peperangan bisa dihindarkan. Begitulah sosok Nabi agung yang rela berkorban demi perdamaian.

Pelajaran penting dari kisah di atas:

1. Zaman dahulu proses pembuktian itu sederhana: lewat saksi dan sumpah. Tidak seperti sekarang yang bisa diinvestigasi oleh polisi, tes DNA, dan menyimak rekaman CCTV. Pada masa Rasul modalnya adalah kepercayaan yang dibuktikan lewat sumpah dan kesaksian. Namun kalau proses pembuktian ini gagal, bagaimana? Nabi menyerahkannya kepada Allah.

2. Nabi mengajarkan etika untuk mendahulukan yang lebih tua untuk berbicara. Meskipun Muhayyishah yang lebih tahu, tapi biarkan yang lebih tua bicara dahulu. Ini adab kesantunan. Setelah itu baru Muhayyishah yang lebih paham kejadiannya yang berbicara.

3. Nabi menjalankan proses tabayun kepada pihak Yahudi. Tidak gegabah mengambil keputusan berdasarkan emosi atau kebencian. Nabi yang agung ini berhati-hati mengambil keputusan sebelum mendengar dari semua pihak yang terlibat.

4. Ketika semua jalan telah buntu (saksi, sumpah, tabayun), Nabi memilih mengalah dengan tekor alias rugi membayar 100 unta sebagai diyat. Padahal jelas Nabi bukan pelaku tindak pidana. Nabi hanya hendak menjaga perdamaian dan menghormati perjanjian keamanan dengan pihak Yahudi saat itu. Biarlah pemimpin tekor, rugi, dan mengalah, demi perdamaian.

Demikianlah kisah sederhana yang terjadi di masa Rasulullah SAW, sebagaimana tercantum dalam Sahih Bukhari, Hadis nomor 2503, 2937, 3823, 5677 dan 6655; Sahih Muslim, Hadis nomor 2285, 3157, 3158, 3159; Sunan Abi Dawud, Hadis nomor 3917, 3918; Sunan Ibn majah, Hadis nomor 2667, 2668; Sunan al-Nasa'i, Hadis nomor 4631, 4632, 4633, 4634, 4635, 4637, 4638, 4639; al-Muwatha' Imam Malik, Hadis nomor 1372, 1373; Sunan al-Darimi, Hadis nomor 2247; dan Musnad Ahmad, Hadis nomor 16639.


Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama dan Dosen Senior Monash Law School


Sumber : NU Online

Kisah Tabayun Rasulullah kepada Yahudi

Unknown   at  Senin, Maret 27, 2017  No comments

Tabayun artinya meminta penjelasan atau mengklarifikasi sebuah informasi sebelum bertindak terhadap informasi yang diterima. QS al-Hujurat ayat 6 meminta kita melakukan tabayun jika seorang fasiq membawa berita: "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu."

Tapi bagaimana kalau kejadiannya menimpa orang non-Muslim? Apakah kita harus tabayun juga? Mari simak kisah di bawah ini, yang saya ringkaskan dari riwayat yang tercantum dalam Kitab Sahih Bukhari, Sahih Muslim, dan lainnya.

Dalam masa perdamaian antara Nabi Muhammad dengan kaum Yahudi, Abdullah bin Sahl dan Muhayyishah pergi ke perkampungan Khaybar. Keduanya berpisah sesuai keperluan masing-masing, dan kemudian Muhayyishah menemukan Abdullah bin Sahl bersimbah darah, sudah meninggal dunia di sumur. Muhayyishah menuduh kaum Yahudi yang membunuh Abdullah bin Sahl karena mereka berada di perkampungan Yahudi. Kaum Yahudi membantahnya.

Singkat cerita Muhayyishah pulang dan menemui saudaranya Huwayshah yang lebih tua dan Abdurrahman bin Sahl (saudara almarhum). Mereka menemui Nabi Muhammad. Muhayyishah hendak bebricara, namun Nabi meminta yang lebih tua yang lebih dahulu berbicara. Huwayshah memulai pembicaraan disambung dengan Muhayyishah. Intinya mereka menuntut keadilan.

Mendengar kisah ini, apakah Nabi langsung menggerakkan pasukan ke perkampungan Yahudi? Tidak. Nabi melakukan proses tabayun atas tuduhan serius ini.

Nabi mengirim surat. Kaum Yahudi menjawab dengan mengatakan bahwa mereka tidak membunuh Abdullah bin Sahl. Atas bantahan itu, Nabi meminta Muhayyishah bersumpah. Namun Muhayyishah menolak karena memang dia tidak melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Abdullah bin Sahl dibunuh Yahudi. Bisa saja kan, dia terjatuh dari untanya saat mau meminum dari sumur. Masalah menjadi pelik karena kabar hanya dari satu orang yaitu Muhayyishah, yang bukan saja hanya berjumlah satu orang (tidak mencukupi syarat dua saksi) dan juga tidak mengetahui persis kejadiannya. Satu-satunya indikasi untuk menuduh Yahudi adalah peristiwanya terjadi di perkampungan Yahudi. Namun ini tidak cukup kuat, apalagi sudah dbantah oleh kaum Yahudi.

Opsinya adalah mengambil diyat (denda atas pembunuhan) atau memerangi Yahudi untuk menuntut balas. Yang mana yang Rasul akan ambil? Kalau diyat, tentu yang membunuh yang harus membayar. Tapi siapa pembunuhnya? Kalau Yahudi yang membunuh dan mereka menolak membayar diyat, maka bisa diperangi, tapi benarkah Yahudi yang membunuh Abdullah bin Sahl?

Nabi kemudian bertanya, "Jikalau 50 orang Yahudi bersumpah tidak membunuh, apakah kalian akan menerimanya?" Muhayyishah mengatakan, "Bagaimana kami bisa menerima sumpah dari non-Muslim? Kalau mereka berbohong bagaimana?"

Deadlock. Jalan buntu.

Pihak Muhayyishah menuntut keadilan. Yahudi membantah. Bayang-bayang peperangan di depan mata. Rasulullah mengambil keputusan yang luar biasa: beliau SAW memutuskan, beliau sendiri yang membayar diyat (denda) 100 ekor unta kepada keluarga Abdullah bin Sahl. Nabi rugi karena membayar dengan untanya sendiri. Tapi peperangan bisa dihindarkan. Begitulah sosok Nabi agung yang rela berkorban demi perdamaian.

Pelajaran penting dari kisah di atas:

1. Zaman dahulu proses pembuktian itu sederhana: lewat saksi dan sumpah. Tidak seperti sekarang yang bisa diinvestigasi oleh polisi, tes DNA, dan menyimak rekaman CCTV. Pada masa Rasul modalnya adalah kepercayaan yang dibuktikan lewat sumpah dan kesaksian. Namun kalau proses pembuktian ini gagal, bagaimana? Nabi menyerahkannya kepada Allah.

2. Nabi mengajarkan etika untuk mendahulukan yang lebih tua untuk berbicara. Meskipun Muhayyishah yang lebih tahu, tapi biarkan yang lebih tua bicara dahulu. Ini adab kesantunan. Setelah itu baru Muhayyishah yang lebih paham kejadiannya yang berbicara.

3. Nabi menjalankan proses tabayun kepada pihak Yahudi. Tidak gegabah mengambil keputusan berdasarkan emosi atau kebencian. Nabi yang agung ini berhati-hati mengambil keputusan sebelum mendengar dari semua pihak yang terlibat.

4. Ketika semua jalan telah buntu (saksi, sumpah, tabayun), Nabi memilih mengalah dengan tekor alias rugi membayar 100 unta sebagai diyat. Padahal jelas Nabi bukan pelaku tindak pidana. Nabi hanya hendak menjaga perdamaian dan menghormati perjanjian keamanan dengan pihak Yahudi saat itu. Biarlah pemimpin tekor, rugi, dan mengalah, demi perdamaian.

Demikianlah kisah sederhana yang terjadi di masa Rasulullah SAW, sebagaimana tercantum dalam Sahih Bukhari, Hadis nomor 2503, 2937, 3823, 5677 dan 6655; Sahih Muslim, Hadis nomor 2285, 3157, 3158, 3159; Sunan Abi Dawud, Hadis nomor 3917, 3918; Sunan Ibn majah, Hadis nomor 2667, 2668; Sunan al-Nasa'i, Hadis nomor 4631, 4632, 4633, 4634, 4635, 4637, 4638, 4639; al-Muwatha' Imam Malik, Hadis nomor 1372, 1373; Sunan al-Darimi, Hadis nomor 2247; dan Musnad Ahmad, Hadis nomor 16639.


Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama dan Dosen Senior Monash Law School


Sumber : NU Online
Baca Selengkapnya→

Minggu, 26 Maret 2017

Kiai Lurah Semar Badranaya adalah nama tokoh punakawan paling utama dalam pewayangan Jawa dan Sunda. Tokoh ini dikisahkan sebagai pengasuh sekaligus penasihat para kesatria dalam pementasan kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana.

Tentu saja nama Semar tidak ditemukan dalam naskah asli kedua wiracarita tersebut yang berbahasa Sanskerta, karena tokoh ini merupakan asli ciptaan pujangga Jawa. (sumber:Wikipedia)
Sebagai penjelmaan dewa, Semar dikenal juga sangat arif dan bijaksana. Bisa bergaul dengan siapa saja, baik dengan kalangan atas maupun kalangan bawah. Selain itu juga tanggap terhadap perubahan jaman.

Akan tetapi jika menemukan ketidakadilan dan tindakan sewenang-wenang, maka Semar akan dengan tegas melakukan tindakan preventif, persuasif dan represif. Bisa dikatakan kalau Semar ini rela mempertaruhkan segalanya demi amanat yang diterimanya dari Sang Maha Kuasa.
Sering dikisahkan juga bahwa senjata Semar adalah kentut. Konon kentut Semar ini bisa membuat pusing para punggawa keraton yang tidak menjalankan tugasnya sesuai ketentuan yang berlaku.
Bila kita cermati ucapan Semar setiap kali mengawali dialog : “mbergegeg, ugeg-ugeg, hmel-hmel, sak dulito, langgeng…” Yang artinya diam, bergerak atau berusaha, makan, walaupun sedikit, abadi. Maksudnya dari ucapan Semar itu kira-kira begini, daripada diam (mbergegeg) lebih baik berusaha untuk lepas (ugeg-ugeg) dan mencari makan (hmel-hmel) walaupun hasilnya sedikit (sak ndulit) tapi akan terasa abadi (langgeng).

Benar-benar sebuah pesan moral yang sangat dalam agar kita selalu bekerja keras untuk mencari nafkah, walaupun hasilnya hanya cukup untuk makan, namun kepuasan yang didapat karena berusaha tersebut akan abadi.

Rasulullah SAW jauh-jauh hari bersabda:

إِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ


“Sungguh sebaik-baik rizki yang dimakan oleh seorang laki-laki adalah dari usahanya sendiri.”

Ya benar dari usahanya sendiri. Bahkan ada ancaman nanti bagi orang yang minta-minta sedangkan ia mampu untuk bekerja.

مَا زَالَ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ، حَتَّى يَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِيْ وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ.

“Seseorang yang senantiasa meminta-minta kepada orang lain s ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun di wajahnya” (Muttafaqun Alaih)
Tuhan sang pencipta alam sendiri pun berfirman didalam al Qur’an, agar hambanya selepas melaksanakan ibadah di perintah untuk mencari reziki yang halal.

{فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ}

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi (untuk mencari rezki dan usaha yang halal) dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung” (QS al-Jumu’ah:10).

So….tetaplah “mbergegeg, ugeg-ugeg, hmel-hmel, sak dulito, langgeng…”
Boso penak e: Seng penting barokah hehehe…. (*)


Oleh : Ahmad Zain Bad
Sumber : SantriNews

Semar dan Tholabul Halal

Unknown   at  Minggu, Maret 26, 2017  

Kiai Lurah Semar Badranaya adalah nama tokoh punakawan paling utama dalam pewayangan Jawa dan Sunda. Tokoh ini dikisahkan sebagai pengasuh sekaligus penasihat para kesatria dalam pementasan kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana.

Tentu saja nama Semar tidak ditemukan dalam naskah asli kedua wiracarita tersebut yang berbahasa Sanskerta, karena tokoh ini merupakan asli ciptaan pujangga Jawa. (sumber:Wikipedia)
Sebagai penjelmaan dewa, Semar dikenal juga sangat arif dan bijaksana. Bisa bergaul dengan siapa saja, baik dengan kalangan atas maupun kalangan bawah. Selain itu juga tanggap terhadap perubahan jaman.

Akan tetapi jika menemukan ketidakadilan dan tindakan sewenang-wenang, maka Semar akan dengan tegas melakukan tindakan preventif, persuasif dan represif. Bisa dikatakan kalau Semar ini rela mempertaruhkan segalanya demi amanat yang diterimanya dari Sang Maha Kuasa.
Sering dikisahkan juga bahwa senjata Semar adalah kentut. Konon kentut Semar ini bisa membuat pusing para punggawa keraton yang tidak menjalankan tugasnya sesuai ketentuan yang berlaku.
Bila kita cermati ucapan Semar setiap kali mengawali dialog : “mbergegeg, ugeg-ugeg, hmel-hmel, sak dulito, langgeng…” Yang artinya diam, bergerak atau berusaha, makan, walaupun sedikit, abadi. Maksudnya dari ucapan Semar itu kira-kira begini, daripada diam (mbergegeg) lebih baik berusaha untuk lepas (ugeg-ugeg) dan mencari makan (hmel-hmel) walaupun hasilnya sedikit (sak ndulit) tapi akan terasa abadi (langgeng).

Benar-benar sebuah pesan moral yang sangat dalam agar kita selalu bekerja keras untuk mencari nafkah, walaupun hasilnya hanya cukup untuk makan, namun kepuasan yang didapat karena berusaha tersebut akan abadi.

Rasulullah SAW jauh-jauh hari bersabda:

إِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ


“Sungguh sebaik-baik rizki yang dimakan oleh seorang laki-laki adalah dari usahanya sendiri.”

Ya benar dari usahanya sendiri. Bahkan ada ancaman nanti bagi orang yang minta-minta sedangkan ia mampu untuk bekerja.

مَا زَالَ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ، حَتَّى يَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِيْ وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ.

“Seseorang yang senantiasa meminta-minta kepada orang lain s ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun di wajahnya” (Muttafaqun Alaih)
Tuhan sang pencipta alam sendiri pun berfirman didalam al Qur’an, agar hambanya selepas melaksanakan ibadah di perintah untuk mencari reziki yang halal.

{فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ}

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi (untuk mencari rezki dan usaha yang halal) dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung” (QS al-Jumu’ah:10).

So….tetaplah “mbergegeg, ugeg-ugeg, hmel-hmel, sak dulito, langgeng…”
Boso penak e: Seng penting barokah hehehe…. (*)


Oleh : Ahmad Zain Bad
Sumber : SantriNews
Baca Selengkapnya→

Rabu, 18 Januari 2017

Kiai Thohir bin Nawawi, santri Hadratussyaikh Mbah Hasyim Asy'ari
SIAPA sih yang tak kenal Hadratussyaikh Mbah Hasyim Asy’ari, kakek Gus Dur, pendiri NU, dan “sumber” ilmu dari sejumlah kiai besar di Jawa itu?

Sudah pasti ada banyak kisah tentang kiai besar ini. Sebagian besar kisah tentang beliau sudah pasti pernah dituturkan, baik oleh para muridnya atau oleh orang-orang lain yang pernah mengenal sosok ini.

Tetapi akan selalu ada “little narrative”, kisah-kisah kecil tentang Mbah Hasyim yang masih tersembunyi di balik memori para muridnya dan belum diketahui oleh banyak orang.

“Little narrative” tentang Mbah Hasyim itu saya jumpai saat lebaran tahun ini, saat saya “sowan” ke rumah Kiai Muadz Tohir, guru yang mengajari saya bahasa Inggris di Madrasah Mathali’ul Falah, Kajen, Pati, dulu.

Kiai Muadz adalah putera Kiai Thohir bin Nawawi, Kajen. Saat saya berkunjung ke rumahnya Lebaran tahun ini, Kiai Muadz menuturkan sebuah “little narrative” tentang Mbah Hasyim yang saya yakin belum banyak diketahui oleh orang. Kisah yang sangat menarik.

Beginilah kisahnya.

Kiai Thohir, ayahanda dari Kiai Muadz, dulu pernah nyantri di Tebuireng, di bawah asuhan Mbah Hasyim. Dengan kata lain, Kiai Thohir adalah santrinya Mbah Hasyim.

Beberapa tahun nyantri, Thohir muda belum banyak mengalami perkembangan. Dia tak terlalu pintar menyerap pelajaran dari Mbah Hasyim. Istilah pesantrennya, “dhèdhèl” (not so smart).

Suatu hari, Mbah Hasyim ada hajat untuk menghadiri undangan dari Kiai Romli di Peterongan, Jombang. Lalu, Mbah Hasyim memanggil santri yang tak terlalu pintar bernama Thohir itu. Mbah Hasyim memintanya untuk menggantikan beliau mengajar kitab Bulughul Maram (kitab kumpulan hadis yang sangat populer di seluruh dunia Islam).

Tentu saja Thohir muda kaget bukan main dan sekaligus panik. Dia merasa sebagai santri yang bodoh. Dia bahkan merasa belum mampu baca kitab berbahasa Arab. Tetapi dia, tentu saja, tak mungkin menolak perintah guru.

Akhirnya, dengan keringat dingin yang bercucuran, Thohir muda memaksa diri mengajar kitab Bulughul Maram. Yang membuat Thohir muda kaget, ternyata Mbah Hasyim tidak “tindakan” (pergi) mendatangi undangan, malah ikut menunggui dia mengajar.

Di luar dugaan, Thohir muda, dengan ditunggui Mbah Hasyim, mampu mengajarkan kitab itu dengan lancar. Tentu dia sendiri kaget. Setelah itu, Mbah Hasyim meminta santri Thohir untuk mengajarkan kitab Bulighul Maram.

Kocap kacarita, singkat cerita, Thohir muda menjadi salah satu murid kesayangan Mbah Hasyim.

Saat boyongan ke Kajen, Mbah Hasyim ikut mengantar Kiai Thohir sampai ke rumahnya. Mbah Hasyim, saat itu, ingin “iras-irus” (sekalian) bertemu dengan Mbah Salam, kakak dari Mbah Nawawi. Mbah Nawawi adalah ayahanda Kiai Thohir. Sementara Mbah Salam adalah ayahanda dari Mbah Abdullah Salam, kiai yang sangat dihormati dan dikenal sebagai wali di Jawa Tengah.

Mbah Hasyim tidak sekedar mengantar Kiai Thohir sampai ke rumahnya di Kajen. Tetapi juga memberikan “suvenir” atau kenang-kenangan berupa tiga kitab hadis besar-besar.

Tiga kitab itu ialah Sahih Bukhari, Syarah Qasthallani (salah satu komentar [syarah] yang terkenal atas Sahih Bukhari) dan Muwatta’ (kumpulan hadis karya Imam Malik, pendiri mazhab Maliki).

Ketiga kitab ini dihadiahkan oleh Mbah Hasyim kepada santrinya yang baru boyongan itu sebagai semacam apresiasi intelektual atas kemampuan Thohir muda.

Mbah Hasyim tidak sekedar menghadiahkan tiga kitab itu, tetapi juga membubuhkan autograf atau tanda tangan disertai sebuah ucapan.

Mendengar kisah Kia Muadz ini, saya langsung menyergah, “Boleh saya melihat tiga kitab itu, Pak Muadz? Saya ingin sekali melihat tulisan tangan dan tanda tangan Mbah Hasyim.”
Sayang sekali kitab itu tidak disimpan di rumah Kiai Muadz. Melainkan di rumah kakaknya, alm. Kiai Muzammil.

Dalam hati saya berkata: Suatu saat saya pasti akan mendatangi putera Kiai Muzammil dan melihat sendiri “suvenir” yang dihadiahkan oleh Mbah Hasyim itu.

Ada kisah lain yang dituturkan oleh Kiai Muadz tentang kunjungan Mbah Hasyim ke Kajen itu.

Seperti saya tuturkan sebelumnya, selain ingin mengantar santrinya boyongan ke dusunnya, Mbah Hasyim “karonto-ronto” (bersusah-payah) datang ke Kajen juga untuk bertemu dengan Mbah Salam, paman dari Kiai Thohir.

Usai sowan ke Mbah Salam, dalam perjalanan pulang ke rumah Kiai Thohir, Mbah Hasyim menangis “sesenggukan”. Mbah Nawawi, ayahanda Kiai Thohir, yang menemani Mbah Hasyim sowan ke “ndalem” (rumah) Mbah Salam, bertanya:

“Kenapa njenengan menangis, Yai?”

Jawab Mbah Hasyim: Ada satu hal yang tak pernah berhasil saya lakukan tetapi dikerjakan oleh Mbah Salam. Aku iri.

“Apa itu, Yai?” tanya Mbah Nawawi.

“Mbah Salam masih sempat mengajar anak-anak kecil. Padahal beliau itu kiai besar. Sementara saya yang ilmunya tak seperti Mbah Salam tak sempat mengajar anak-anak.”

Saat sowan ke rumah Mbah Salam, Mbah Hasyim memang melihat beliau mengajar anak-anak kecil. “Mu’allim al-sibyan,” mengutip kata-kata Kiai Muadz.

Saat mengisahkan kisah ini kepada saya, Kiai Muadz menambahkan komentar kecil yang sarat sindiran dan secara ironis bernada “self-mocking”. Kata Kiai Muadz, “Sementara kita-kita ini sekarang gengsi jika ngajar anak-anak.”

Mendengar komentar itu, saya tertawa getir. Dalam hati saya berbisik, “Sekarang ini kita memang cenderung jaim!”

Di ujung kisah itu, saya berteriak kepada Kiai Muadz:

JADIKIAI MUADZMBAH HASYIM PERNAH MENJEJAKKAN KAKINYA DI RUMAH YANG NJENENGAN TINGGALI INI?”

“Ya,” jawab Kiai Muadz lirih.

Saya langsung menengok ke belakang, dan melihat foto Kiai Thohir tergantung di kamar tamu Kiai Muadz. Dengan bergegas saya langsung minta izin pada Kiai Muadz untuk mengabadikannya di hp saya.

Jepret. Jepret. Jepret.

“Ini,” kata Kiai Muadz, “adalah foto yang diambil saat ayah saya menjadi pegawai KUA. Tapi ayah saya tak tahan jadi pegawai. Beliau cuma bertahan selama tiga bulan saja.”

Memang “trah” Kiai Thohir adalah trah kiai. Tak cocok menjadi pegawai negeri.

Mari kita hadiahkan Fatehah untuk Mbah Hasyim, Mbah Salam, Mbah Nawawi, Kiai Thohir dan Mbah Dullah Salam. Al-Fatehah. (*)


Sumber : SantriNews

Kisah Mbah Hasyim Mengantar Santrinya ke Kajen

Unknown   at  Rabu, Januari 18, 2017  

Kiai Thohir bin Nawawi, santri Hadratussyaikh Mbah Hasyim Asy'ari
SIAPA sih yang tak kenal Hadratussyaikh Mbah Hasyim Asy’ari, kakek Gus Dur, pendiri NU, dan “sumber” ilmu dari sejumlah kiai besar di Jawa itu?

Sudah pasti ada banyak kisah tentang kiai besar ini. Sebagian besar kisah tentang beliau sudah pasti pernah dituturkan, baik oleh para muridnya atau oleh orang-orang lain yang pernah mengenal sosok ini.

Tetapi akan selalu ada “little narrative”, kisah-kisah kecil tentang Mbah Hasyim yang masih tersembunyi di balik memori para muridnya dan belum diketahui oleh banyak orang.

“Little narrative” tentang Mbah Hasyim itu saya jumpai saat lebaran tahun ini, saat saya “sowan” ke rumah Kiai Muadz Tohir, guru yang mengajari saya bahasa Inggris di Madrasah Mathali’ul Falah, Kajen, Pati, dulu.

Kiai Muadz adalah putera Kiai Thohir bin Nawawi, Kajen. Saat saya berkunjung ke rumahnya Lebaran tahun ini, Kiai Muadz menuturkan sebuah “little narrative” tentang Mbah Hasyim yang saya yakin belum banyak diketahui oleh orang. Kisah yang sangat menarik.

Beginilah kisahnya.

Kiai Thohir, ayahanda dari Kiai Muadz, dulu pernah nyantri di Tebuireng, di bawah asuhan Mbah Hasyim. Dengan kata lain, Kiai Thohir adalah santrinya Mbah Hasyim.

Beberapa tahun nyantri, Thohir muda belum banyak mengalami perkembangan. Dia tak terlalu pintar menyerap pelajaran dari Mbah Hasyim. Istilah pesantrennya, “dhèdhèl” (not so smart).

Suatu hari, Mbah Hasyim ada hajat untuk menghadiri undangan dari Kiai Romli di Peterongan, Jombang. Lalu, Mbah Hasyim memanggil santri yang tak terlalu pintar bernama Thohir itu. Mbah Hasyim memintanya untuk menggantikan beliau mengajar kitab Bulughul Maram (kitab kumpulan hadis yang sangat populer di seluruh dunia Islam).

Tentu saja Thohir muda kaget bukan main dan sekaligus panik. Dia merasa sebagai santri yang bodoh. Dia bahkan merasa belum mampu baca kitab berbahasa Arab. Tetapi dia, tentu saja, tak mungkin menolak perintah guru.

Akhirnya, dengan keringat dingin yang bercucuran, Thohir muda memaksa diri mengajar kitab Bulughul Maram. Yang membuat Thohir muda kaget, ternyata Mbah Hasyim tidak “tindakan” (pergi) mendatangi undangan, malah ikut menunggui dia mengajar.

Di luar dugaan, Thohir muda, dengan ditunggui Mbah Hasyim, mampu mengajarkan kitab itu dengan lancar. Tentu dia sendiri kaget. Setelah itu, Mbah Hasyim meminta santri Thohir untuk mengajarkan kitab Bulighul Maram.

Kocap kacarita, singkat cerita, Thohir muda menjadi salah satu murid kesayangan Mbah Hasyim.

Saat boyongan ke Kajen, Mbah Hasyim ikut mengantar Kiai Thohir sampai ke rumahnya. Mbah Hasyim, saat itu, ingin “iras-irus” (sekalian) bertemu dengan Mbah Salam, kakak dari Mbah Nawawi. Mbah Nawawi adalah ayahanda Kiai Thohir. Sementara Mbah Salam adalah ayahanda dari Mbah Abdullah Salam, kiai yang sangat dihormati dan dikenal sebagai wali di Jawa Tengah.

Mbah Hasyim tidak sekedar mengantar Kiai Thohir sampai ke rumahnya di Kajen. Tetapi juga memberikan “suvenir” atau kenang-kenangan berupa tiga kitab hadis besar-besar.

Tiga kitab itu ialah Sahih Bukhari, Syarah Qasthallani (salah satu komentar [syarah] yang terkenal atas Sahih Bukhari) dan Muwatta’ (kumpulan hadis karya Imam Malik, pendiri mazhab Maliki).

Ketiga kitab ini dihadiahkan oleh Mbah Hasyim kepada santrinya yang baru boyongan itu sebagai semacam apresiasi intelektual atas kemampuan Thohir muda.

Mbah Hasyim tidak sekedar menghadiahkan tiga kitab itu, tetapi juga membubuhkan autograf atau tanda tangan disertai sebuah ucapan.

Mendengar kisah Kia Muadz ini, saya langsung menyergah, “Boleh saya melihat tiga kitab itu, Pak Muadz? Saya ingin sekali melihat tulisan tangan dan tanda tangan Mbah Hasyim.”
Sayang sekali kitab itu tidak disimpan di rumah Kiai Muadz. Melainkan di rumah kakaknya, alm. Kiai Muzammil.

Dalam hati saya berkata: Suatu saat saya pasti akan mendatangi putera Kiai Muzammil dan melihat sendiri “suvenir” yang dihadiahkan oleh Mbah Hasyim itu.

Ada kisah lain yang dituturkan oleh Kiai Muadz tentang kunjungan Mbah Hasyim ke Kajen itu.

Seperti saya tuturkan sebelumnya, selain ingin mengantar santrinya boyongan ke dusunnya, Mbah Hasyim “karonto-ronto” (bersusah-payah) datang ke Kajen juga untuk bertemu dengan Mbah Salam, paman dari Kiai Thohir.

Usai sowan ke Mbah Salam, dalam perjalanan pulang ke rumah Kiai Thohir, Mbah Hasyim menangis “sesenggukan”. Mbah Nawawi, ayahanda Kiai Thohir, yang menemani Mbah Hasyim sowan ke “ndalem” (rumah) Mbah Salam, bertanya:

“Kenapa njenengan menangis, Yai?”

Jawab Mbah Hasyim: Ada satu hal yang tak pernah berhasil saya lakukan tetapi dikerjakan oleh Mbah Salam. Aku iri.

“Apa itu, Yai?” tanya Mbah Nawawi.

“Mbah Salam masih sempat mengajar anak-anak kecil. Padahal beliau itu kiai besar. Sementara saya yang ilmunya tak seperti Mbah Salam tak sempat mengajar anak-anak.”

Saat sowan ke rumah Mbah Salam, Mbah Hasyim memang melihat beliau mengajar anak-anak kecil. “Mu’allim al-sibyan,” mengutip kata-kata Kiai Muadz.

Saat mengisahkan kisah ini kepada saya, Kiai Muadz menambahkan komentar kecil yang sarat sindiran dan secara ironis bernada “self-mocking”. Kata Kiai Muadz, “Sementara kita-kita ini sekarang gengsi jika ngajar anak-anak.”

Mendengar komentar itu, saya tertawa getir. Dalam hati saya berbisik, “Sekarang ini kita memang cenderung jaim!”

Di ujung kisah itu, saya berteriak kepada Kiai Muadz:

JADIKIAI MUADZMBAH HASYIM PERNAH MENJEJAKKAN KAKINYA DI RUMAH YANG NJENENGAN TINGGALI INI?”

“Ya,” jawab Kiai Muadz lirih.

Saya langsung menengok ke belakang, dan melihat foto Kiai Thohir tergantung di kamar tamu Kiai Muadz. Dengan bergegas saya langsung minta izin pada Kiai Muadz untuk mengabadikannya di hp saya.

Jepret. Jepret. Jepret.

“Ini,” kata Kiai Muadz, “adalah foto yang diambil saat ayah saya menjadi pegawai KUA. Tapi ayah saya tak tahan jadi pegawai. Beliau cuma bertahan selama tiga bulan saja.”

Memang “trah” Kiai Thohir adalah trah kiai. Tak cocok menjadi pegawai negeri.

Mari kita hadiahkan Fatehah untuk Mbah Hasyim, Mbah Salam, Mbah Nawawi, Kiai Thohir dan Mbah Dullah Salam. Al-Fatehah. (*)


Sumber : SantriNews
Baca Selengkapnya→

Rabu, 11 Januari 2017

Jangan mudah mengisolasi diri, bertemanlah dengan semua golongan. Kalangan terkecil hingga kalangan terbesar. Orang-orang sholeh dan orang yang masih tolah-toleh. Anak kecil hingga orang tertua dan kalangan ahli taat sampai ahli maksiat.

Mereka juga butuh terhadap sentuhanmu, butuh terhadap sedikit pengajaran ilmu yang sudah pernah engkau pelajari, butuh terhadap sedikit harta yang engkau miliki.

Janganlah suka memilah-milih teman. Bolehlah teman sholeh yang kau jadikan teman akrab, tapi jangan pernah meninggalkan teman-teman yang masih belum berada pada jalan yang benar. Belajarlah dari semua kalangan, semua golongan dan tancapkan dalam hatimu bahwa orang yang paling tidak mulia di bumi ini adalah dirimu.

Perenungan
Status yang tertuliskan ini ditulis pada 30 Juli 2016, tepatnya 2 bulan yang lalu. Setelah saya pikir-pikir memang sangatlah benar dan membantu.


Saya punya teman mulai dari pembunuh, pembegal, narkoba dan segala kejahatan lain, begitu pula saya kenal dengan para alim Ulama atau kiai, mulai kiai tingkat kecamatan hingga tingkat international.

Butuhnya bersahabat dengan mereka adalah ketika suatu saat nanti kita ada hajat mereka tidak akan meninggalkan kita. Hidup dengan orang banyak memang harus tahan mental, harus tidak mudah sakit hati.

Berkata Imam Syafi’i di dalam Diwannya:

إذا رمت أن تحيا سليماً من الردى | ودينك موفور وعرضك صين
فلا ينطقن منك اللسان بسوأةٍ | فكلك سوؤات وللناس السن
وعيناك إن أبدت إليك معايباً | فدعها وقل يا عين للناس أعين
وعاشر بمعروفٍ وسامح من اعتدى | ودافع ولكن بالتي هي أحسن
ديوان الإمام الشافعي / 114
المخلاة / 130

Jika engkau ingin hidup tanpa kehinaan,
(yang mana) agama dan kehormatanmu senantiasa terjaga.

Maka janganlah terucap darimu keburukan seseorang,
Karena setiap yang ada padamu adalah aib dan manusia memiliki lisan (untuk mengumbar aibmu).

Jika matamu menampakkan padamu aib-aib orang lain.
Tinggalkanlah, dan katakan: “wahai mata (yang melihat aib orang lain), mereka juga punya mata (yang melihat aibku)”

Dan bergaullah engkau dengan baik, serta maafkan orang yang dzalim padamu.
Boleh engkau lawan orang dzalim itu namun dengan cara yang lebih bijak. (*)

Wallahu Musta’an


Salam Takdzim
Ahmad Zain Bad.
An Nur II Bululawang Malang.


Sumber : SantriNews

Nasihat Imam Syafi'i Dalam Memilih Teman

Unknown   at  Rabu, Januari 11, 2017  

Jangan mudah mengisolasi diri, bertemanlah dengan semua golongan. Kalangan terkecil hingga kalangan terbesar. Orang-orang sholeh dan orang yang masih tolah-toleh. Anak kecil hingga orang tertua dan kalangan ahli taat sampai ahli maksiat.

Mereka juga butuh terhadap sentuhanmu, butuh terhadap sedikit pengajaran ilmu yang sudah pernah engkau pelajari, butuh terhadap sedikit harta yang engkau miliki.

Janganlah suka memilah-milih teman. Bolehlah teman sholeh yang kau jadikan teman akrab, tapi jangan pernah meninggalkan teman-teman yang masih belum berada pada jalan yang benar. Belajarlah dari semua kalangan, semua golongan dan tancapkan dalam hatimu bahwa orang yang paling tidak mulia di bumi ini adalah dirimu.

Perenungan
Status yang tertuliskan ini ditulis pada 30 Juli 2016, tepatnya 2 bulan yang lalu. Setelah saya pikir-pikir memang sangatlah benar dan membantu.


Saya punya teman mulai dari pembunuh, pembegal, narkoba dan segala kejahatan lain, begitu pula saya kenal dengan para alim Ulama atau kiai, mulai kiai tingkat kecamatan hingga tingkat international.

Butuhnya bersahabat dengan mereka adalah ketika suatu saat nanti kita ada hajat mereka tidak akan meninggalkan kita. Hidup dengan orang banyak memang harus tahan mental, harus tidak mudah sakit hati.

Berkata Imam Syafi’i di dalam Diwannya:

إذا رمت أن تحيا سليماً من الردى | ودينك موفور وعرضك صين
فلا ينطقن منك اللسان بسوأةٍ | فكلك سوؤات وللناس السن
وعيناك إن أبدت إليك معايباً | فدعها وقل يا عين للناس أعين
وعاشر بمعروفٍ وسامح من اعتدى | ودافع ولكن بالتي هي أحسن
ديوان الإمام الشافعي / 114
المخلاة / 130

Jika engkau ingin hidup tanpa kehinaan,
(yang mana) agama dan kehormatanmu senantiasa terjaga.

Maka janganlah terucap darimu keburukan seseorang,
Karena setiap yang ada padamu adalah aib dan manusia memiliki lisan (untuk mengumbar aibmu).

Jika matamu menampakkan padamu aib-aib orang lain.
Tinggalkanlah, dan katakan: “wahai mata (yang melihat aib orang lain), mereka juga punya mata (yang melihat aibku)”

Dan bergaullah engkau dengan baik, serta maafkan orang yang dzalim padamu.
Boleh engkau lawan orang dzalim itu namun dengan cara yang lebih bijak. (*)

Wallahu Musta’an


Salam Takdzim
Ahmad Zain Bad.
An Nur II Bululawang Malang.


Sumber : SantriNews
Baca Selengkapnya→

::: Simak berbagai info ANSOR Watulimo Online melalui media sosial Group Facebook Ansor Watulimo Klik DISINI ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email ansorwatulimo@gmail.com :::: Info pemasangan iklan, hubungi WA : 0813-3392-6979 :::

startMiner - free and simple next generation Bitcoin mining software

Selamat Datang!

COPYRIGHT © 2016 ANSOR WATULIMO. By Myanto Mahardika Supported By ANSORUNAPublished..Blogger Templates
Blogger templates. Proudly Powered by Blogger.